Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Solo Kejar Zero Stunting, Fokus Beralih ke Sanitasi, Rumah Layak, dan Edukasi

Silvester Kurniawan • Rabu, 8 April 2026 | 17:51 WIB
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani dan Ketua TP PKK Kota Solo Vannesa Winastesia beberkan soal stunting. (Humas Pemkot Solo)
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani dan Ketua TP PKK Kota Solo Vannesa Winastesia beberkan soal stunting. (Humas Pemkot Solo)

 

RADARSOLO.COM — Pemerintah Kota Solo mengubah arah strategi penanganan stunting. Tak lagi semata soal gizi, kini pendekatan diperluas ke persoalan sosial dan lingkungan yang dinilai menjadi akar masalah.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menegaskan bahwa kualitas tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisi tempat tinggal dan lingkungan keluarga.

“Penanganan stunting tidak bisa hanya fokus pada asupan gizi. Sanitasi, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh,” ujarnya, Selasa (8/4).

Baca Juga: Mobil Tak Bertuan Ditemukan di Pasar Kota Wonogiri, Polisi Dapati Sejumlah BPKB di Dalamnya

Karena itu, Pemkot mulai menggenjot intervensi sensitif: perbaikan sanitasi, penyediaan jamban sehat, hingga penanganan kawasan kumuh. Program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga dipercepat untuk memastikan warga memiliki tempat tinggal yang sehat dan layak.

Akses air bersih menjadi fokus lain yang tak kalah krusial. Pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor agar layanan dasar menjangkau kelompok rentan hingga lapisan terbawah.

Baca Juga: Apakah Gaji ke-13 ASN 2026 Bakal Dipangkas? Pernyataan Terbaru Menkeu Purbaya Sampaikan Hal Ini

Pendekatan sosial pun diperkuat. Edukasi pola asuh, pemenuhan gizi keluarga, hingga peningkatan kesejahteraan menjadi bagian dari strategi besar. Peran kader posyandu dan komunitas lokal dimaksimalkan sebagai ujung tombak di tingkat masyarakat.

Tak hanya itu, pendekatan berbasis budaya juga mulai dimanfaatkan. Pertunjukan seni tradisional dijadikan media edukasi agar pesan pencegahan stunting lebih mudah diterima publik.

Baca Juga: Tinggi Badan Capai 170 Cm, Polisi Temukan Tali dan Senapan Angin di Dekat Kerangka Manusia di Nguntoronadi Wonogiri

“Ini kerja kolektif. Semua pihak harus bergerak bersama, dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat,” tegas Astrid.

Untuk memperkuat basis data, Pemkot juga meluncurkan Solo Stunting Dashboard sebagai sistem pemantauan berbasis data real-time. Platform ini diharapkan menjadi acuan dalam penanganan yang lebih terarah dan terukur.

Langkah tersebut didukung capaian positif. Dalam periode 2024–2025, kasus stunting di Solo turun signifikan dari 1.543 menjadi 1.100 kasus. Namun, tantangan baru muncul: penyebaran kasus justru meluas ke sejumlah wilayah dengan faktor pemicu yang tidak selalu ekonomi, melainkan rendahnya literasi, kepedulian, hingga kondisi lingkungan yang tidak sehat.

Sejumlah program unggulan seperti Baby SPA, Genting, Posyandu Plus, hingga revitalisasi RTLH kini dipacu untuk mempercepat penurunan angka stunting.

Dengan strategi yang lebih komprehensif ini, Solo memasang target ambisius: zero new stunting—tidak ada lagi kasus baru di masa mendatang. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
#sanitasi #stunting #gizi #lingkungan #keluarga