Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Solo Darurat Sampah Plastik, Dorong Pedagang Pasar Tradisional hingga Mall Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

Silvester Kurniawan • Minggu, 12 April 2026 | 17:30 WIB
Pilah sampah sejak hulu dapat mengurangi sampah di TPA. (M Ihsan/Radar Solo)
Pilah sampah sejak hulu dapat mengurangi sampah di TPA. (M Ihsan/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Beban sampah di TPA Putri Cempo sudah di ambang batas. Merespons kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani bergerak cepat mengajak pedagang hingga pengunjung pusat perbelanjaan untuk memutus rantai ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Selain demi menjaga kelestarian lingkungan, langkah "diet plastik" ini menjadi solusi logis menghadapi lonjakan harga bahan baku plastik yang kian mencekik pelaku usaha belakangan ini.

Kampanye masif ini dilakukan Astrid saat menyisir Pasar Gede Solo hingga pusat perbelanjaan modern Neo Solo Grand Mall, beberapa waktu lalu. Di sana, ia berdialog langsung dengan para pedagang untuk mulai beralih menggunakan alat saji yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Huni Lahan Negara 20 Tahun, Wali Kota Respati Persilakan Warga Solo Urus Sertifikat Gratis Lewat Prona

“Selain harga plastik yang terus meningkat, kita harus sama-sama mengurangi beban sampah plastik di Kota Solo. Ini bukan sekadar imbauan, tapi tanggung jawab bersama,” tegas Astrid Widayani, Minggu (12/4/2026).

Astrid mendorong momentum kenaikan harga plastik ini sebagai titik balik perubahan perilaku. Ia menyarankan pelaku usaha mengganti sedotan dan cup plastik dengan bahan kertas. Bagi konsumen, membawa tempat makan atau kantong belanja sendiri dari rumah adalah cara paling ampuh untuk menekan biaya tambahan sekaligus mengurangi limbah.

Baca Juga: Gajahan Jadi Pionir Kelola Sampah di Solo: Tak Dipilah Sesuai Warna Kresek, Sampah Warga Tak Bakal Diangkut!

“Pedagang di foodcourt atau pasar bisa mengganti kemasan sekali pakai dengan alat makan yang dapat digunakan kembali. Penggunaan bahan non-plastik sangat diperbolehkan, asalkan tetap memenuhi standar keamanan pangan,” imbuhnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data, 44 pasar tradisional di Solo menyumbang 33 persen dari total sampah harian yang mencapai 386-419 ton ke TPA Putri Cempo. Angka ini menjadi sasaran utama Pemkot Solo dalam program pengelolaan sampah hulu-hilir yang digalakkan per April 2026.

Baca Juga: Simulasi di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Kartu Nusuk Haji 2026 Kini Dibagikan dan Diaktivasi Sejak di Embarkasi

Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Arif Handoko, menegaskan pihaknya mematok target tinggi untuk menekan produksi limbah dari sektor perdagangan.

“Produksi sampah harian dari pasar tradisional di Solo coba kita tekan 30 hingga 50 persen agar tidak semuanya menumpuk di TPA Putri Cempo. Sosialisasi terus kita kencangkan kepada para pedagang agar mereka mulai memilah dan mengurangi penggunaan plastik,” jelas Arif.

Astrid berharap, perubahan kecil dari tangan pedagang dan pembeli di pasar dapat memberikan dampak signifikan bagi daya dukung lingkungan Kota Bengawan di masa depan. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
#konsumen #plastik #pasar gede #mall #sampah