Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ibu Menggendong Batu Karya Hanindawan: Sajikan Perjuangan Perempuan dan Kritik Ketamakan Penguasa

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Minggu, 26 April 2026 | 09:58 WIB
MENDALAMI PERAN: Pertunjukan teater bertajuk “Ibu Menggendong Batu” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Kamis (23/4). (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)
MENDALAMI PERAN: Pertunjukan teater bertajuk “Ibu Menggendong Batu” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Kamis (23/4). (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Pertunjukan teater bertajuk “Ibu Menggendong Batu” hadir sebagai sajian reflektif tentang beban perempuan, ketamakan manusia, dan akar kemanusiaan yang kerap dilupakan. Ada makna mendalam dalam konsep yang diusung pementasan ini.

Pementasan ini digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Kamis (23/4). Karya garapan sutradara Hanindawan Sutikno ini memadukan teater tutur dan tari sebagai medium utama penyampaian cerita.

Hanindawan menjelaskan, naskah Ibu Menggendong Batu tidak lahir dari satu sumber tunggal. Dia meramu berbagai dongeng rakyat Nusantara yang memiliki keterkaitan dengan simbol batu, lalu mengolahnya menjadi satu narasi baru yang lebih dekat dengan realitas sosial hari ini.

Baca Juga: Belajar Mengenal Diri lewat Peran, Panggung Teater Arena Jadi Kelas Kehidupan

Beberapa dongeng yang menjadi inspirasi di antaranya adalah Batu Belah dari Aceh yang berbicara tentang kemiskinan dan konflik rumah tangga, kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat tentang anak durhaka kepada ibu, hingga legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat yang juga menyoroti hubungan anak dan ibu.

Tak hanya itu, legenda Roro Jonggrang dari Jawa Tengah turut menjadi bagian penting dalam konstruksi cerita. Hanindawan melihat sosok Roro Jonggrang sebagai simbol perempuan yang melakukan perlawanan, meski pada akhirnya tetap berujung menjadi batu.

“Lalu ada satu cerpen karya Danarto yang juga membantu imajinasi saya untuk membuat teks ini. Saya memang termasuk orang yang menyukai karya-karya Danarto,” ujar Hanindawan kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Beratnya Meniti Panggung Teater: Banyak yang Gagal Dikarenakan Kurang Percaya Diri

Selain sumber sastra, dia juga banyak mengambil inspirasi dari pengalaman faktual yang ditemuinya sehari-hari. Pergulatan perempuan di lingkungan sekitar menjadi sumber empati yang kuat dalam proses kreatif pertunjukan tersebut.

Setiap pagi, dia bercerita kerap melihat perempuan-perempuan pekerja yang sudah berdiri di depan toko bahkan sebelum pintu dibuka. Mereka datang lebih awal, menunggu di depan regul yang masih tertutup, seolah menjadi simbol perjuangan yang tak pernah selesai.

Pengalaman lain yang ditemuinya saat pulang malam melewati area persawahan yang gelap. Di sana, dia sering melihat perempuan-perempuan pulang bekerja larut malam.

Baginya, pemandangan itu bukan hanya terjadi di lingkungannya, tetapi menjadi potret banyak perempuan Indonesia.

Di dekat rumahnya juga terdapat pabrik garmen yang belakangan mengalami penurunan permintaan hingga berdampak pada pengurangan tenaga kerja. Kondisi itu semakin memperkuat keresahan sosial yang dia rasakan terhadap nasib para perempuan pekerja.

“Saya sering pula didatangi saudara saya, seorang perempuan yang tidak punya pekerjaan. Dari situ rasa empati saya terhadap perempuan semakin besar,” ungkapnya.

Baca Juga: Teater Mentari MA Maslakul Huda Lamongan Mentas di Solo, Ambil Lakon Ayahku Pulang

Di sisi lain, Hanindawan melihat kontras yang begitu tajam antara perjuangan masyarakat kecil dengan maraknya praktik korupsi dan ketamakan para pemilik kuasa. Dia menyinggung bagaimana brangkas negara justru digerogoti oleh mereka yang seharusnya menjaganya.

Menurutnya, situasi itu memperlihatkan ironi besar. Saat sebagian orang menumpuk kekayaan hingga triliunan rupiah, banyak perempuan justru berjuang keras hanya untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari pergulatan itulah lahir gagasan Ibu Menggendong Batu. Hanindawan menyebut pertunjukan ini pada dasarnya berbicara tentang kemanusiaan, bukan semata persoalan sosial atau perempuan semata.

“Sebenarnya ini tentang kemanusiaan. Manusia itu akhirnya akan ke mana? Setelah punya kekayaan, punya semuanya, mau dijadikan apa? Pertanyaan itu ujung-ujungnya selalu kembali pada asal-usul manusia,” tegasnya.

Baca Juga: Semarak Bulan Bahasa 2025, Siswa SM Al Firdaus Tampilkan Teater Anoman Comeback di Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Pesan itu diperkuat melalui ending pertunjukan, ketika sosok manusia yang tamak digambarkan ditolak oleh bumi karena telah melukai asal-usulnya sendiri. Bagi Hanindawan, orang yang lupa terhadap akar kemanusiaannya pada akhirnya akan kehilangan tempat untuk kembali.

Untuk menyampaikan gagasan tersebut, dia sengaja memilih format teater tutur yang dipadukan dengan tari. Baginya, dongeng adalah bentuk narasi yang kini semakin langka, padahal masih memiliki kekuatan besar jika disampaikan dengan serius dan kuat.

Karena itu, Ibu Menggendong Batu tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga tontonan dongeng yang mengajak penonton merenungkan kembali hubungan manusia dengan ibu, bumi, dan asal-usul kehidupannya. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
#pementasan #ibu #teater #taman budaya #drachin