RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo membuka kesempatan seluas-luasnya untuk bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dalam upaya penghijauan hingga pengelolaan sampah terintegrasi. Keterlibatan aktif warga dinilai menjadi pilar utama dalam pelestarian lingkungan hidup di wilayah perkotaan.
Isu pelibatan masyarakat ini menjadi perhatian serius Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Astrid Widayani. Dalam berbagai kesempatan, dirinya kerap meninjau dan terlibat langsung dalam aksi nyata menjaga ekosistem kota di berbagai sudut Kota Bengawan.
Salah satunya adalah aksi penanaman bibit Pohon Sala di kawasan Kampung Sewu yang digelar bersama Pemuda Muhammadiyah pada Kamis (14/5/2026) lalu.
“Kami berharap ini tidak sekadar menjadi aksi seremonial penanaman pohon. Gerakan ini harus mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa penghijauan adalah kebutuhan mutlak di tengah perkembangan zaman dan lingkungan yang semakin urban,” ujar Astrid, Minggu (17/5/2026).
Astrid membenarkan bahwa ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) terus menjadi fokus perhatian Pemkot Solo. Oleh karena itu, ia mendorong keterlibatan lintas sektor—mulai dari organisasi kemasyarakatan, akademisi kampus, hingga komunitas pencinta lingkungan—untuk bersama-sama memperluas paru-paru kota.
Baca Juga: Anak Bawah Umur di Giritontro Wonogiri yang Dianiaya Warga Disebut Sering Mencuri
“Ruang Terbuka Hijau ini adalah wajah kota kita, maka kualitasnya harus diperkuat bersama-sama. Selain penghijauan, manajemen pengelolaan sampah juga harus berjalan seirama. Dua isu lingkungan ini menjadi fokus utama yang terus kami dorong,” jelas Astrid.
Terkait tata kelola sampah, Astrid baru-baru ini meninjau langsung sistem pengelolaan sampah rumah tangga yang dikembangkan oleh warga di Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari.
Di lokasi tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat berhasil mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC). Hasil olahan pupuk tersebut kemudian dimanfaatkan secara mandiri untuk menyokong aktivitas pertanian perkotaan (urban farming).
Astrid menilai, meskipun inovasi di Kelurahan Timuran ini masih berskala kecil, pemanfaatan sampah organik tersebut memiliki potensi dampak yang sangat besar bagi lingkungan dan ketahanan pangan jika direplikasi secara masif di kampung-kampung lain.
“Ini adalah contoh nyata dari gerakan ketahanan pangan berbasis masyarakat. Sekaligus, menjadi bukti konkret penguatan ekonomi sirkular yang dimulai dari tingkat kampung,” pungkas Wawali. (ves)
Editor : Kabun Triyatno