RADARSOLO.COM – Penyebab pasti meninggalnya Herwanto, 26, warga Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri di indekos kawasan Panularan, Kota Solo, pada 17 Februari 2026 menyisakan tanda tanya besar.
Kondisi tersebut semakin kusut ketika pihak keluarga mengaku telah lapor polisi, tapi Polresta Solo menyatakan belum menerima laporan resmi.
Kasatreskrim Polresta Surakarta AKP Derry Eko Setiawan menjelaskan, saat kejadian pada 17 Februari 2026, informasi meninggalnya Herwanto hanya dilaporkan ke lingkungan setempat dan tidak masuk ke kepolisian.
Baca Juga: Apa Itu Planogram? Kopdes Merah Putih Jadi Sorotan Warganet, Penataan Produk Viral di Media Sosial
“Waktu itu meninggal dilaporkan ke ketua RT, tidak dilaporkan ke kami,” ujar Derry, Selasa (19/5/2026).
Menurut Derry, sekitar tiga minggu setelah pemakaman, ada perwakilan keluarga yang datang ke Polresta Solo untuk berkonsultasi terkait kematian Herwanto.
Saat itu, pihak kepolisian mengarahkan agar laporan dibuat oleh pihak yang mengetahui langsung kejadian di lokasi.
“Sekitar tiga minggu kemudian ada perwakilan keluarga ke sini (Polresta Solo) dan diarahkan ke Unit 2. Karena korban tinggal bersama istrinya, kami minta yang membuat laporan istrinya, yang mengetahui langsung kejadiannya,” jelas dia.
Namun setelah itu, polisi mengaku belum menerima laporan lanjutan dari pihak keluarga maupun istri korban.
Baca Juga: BYD M6 DM Resmi Rilis, PHEV Pertama BYD di Indonesia, Konsumsi BBM Diklaim Tembus 65 Km/Liter!
“Kami tunggu, tetapi tidak ada laporan yang masuk hingga kemudian muncul video itu,” sambungnya.
Derry menegaskan pada prinsipnya kepolisian terbuka menerima seluruh laporan masyarakat, termasuk jika nantinya keluarga korban ingin melapor secara resmi terkait dugaan kejanggalan kematian Herwanto.
Kasatreskrim menduga ada miskomunikasi antara pihak keluarga dengan petugas saat proses konsultasi awal di Polresta Solo.
Diberitakan sebelumnya, Sarto, kakek Herwanto mengaku sempat melihat jenazah cucunya.
Wajah Hermanto bengkak dan membiru. "Di leher tidak ada jeratan. Cuma di wajah bengkak. Lalu giginya ada yang goyang, sudah mau lepas," beber dia.
Baca Juga: Pastikan Pupuk Bersubsidi Sampai ke Petani, Pupuk Kaltim Supervisi Langsung Kios Resmi di Gorontalo
Pihak keluarga Herwanto melaporkan hal itu ke Polresta Solo sekira sepekan setelah pemakaman karena masih berduka.
"Sampai di sana (Mapolresta Solo), disampaikan laporan tidak diterima kalau saya dan ayahnya korban yang menyampaikan aduan itu. Katanya orang luar, lalu kita tanya yang benar siapa yang mengadu, kata petugasnya yang lapor harus Rani, istrinya," papar dia.
Hal itu kemudian dikomunikasikan dengan Rani.
Sarto menuturkan, berdasarkan pengakuan Rani, dia sudah melaporkan hal itu ke Polresta Solo.
"Katanya Rani, ditolak (aduannya). Alasannya katanya yang nangani beda polisi. Kalau polisi kan harusnya sama saja itu karena pembunuhan atau meninggal sendiri. (Rani) Diam saja. Kalau perkara sudah dilaporkan benar atau tidak saya tidak tahu. Saat ditanya bilangnya seperti itu," papar dia.
Sarto dan keluarga berharap ada kejelasan terkait misteri meninggalnya Herwanto dengan sejumlah luka yang dialami.
Apakah pihak keluarga juga memberi lampu hijau jika nantinya ada pembongkaran makam? Sarto mengatakan pihak keluarga tak memiliki biaya.
Namun, jika biaya seperti ekshumasi ditangani dan dibiayai oleh pemerintah atau institusi terkait, keluarga siap mendukung. (atn/al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono