SOLO – Wali Kota Solo Respati Ardi anjurkan warganya menggunakan besek, sebagai alternatif pengganti plastik untuk bungkus daging kurban dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Tapi siapa sangka, pemanfaatan besek sudah lama dilakukan Majelis Tafsir Alquran Solo. Bahkan sejak 1976 silam.
Ketua panitia pusat penyembelihan kurban MTA cabang Makam Haji Muhammad Ghozali menjelaskan, tradisi pemanfaatan besek tetap dipertahankan hingga kini.
Meski diakui, biaya pengadaannya lebih tinggi dibanding kantong plastik.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bagi Daging, Mbak Wawali Solo Sebut Kurban Jadi Simbol Rantai Kebaikan Tanpa Sekat
“Sudah sejak awal 1976 kami pakai besek. Memang ada warga MTA yang produksi besek dalam jumlah besar, jadi kami ambilnya dari situ,” jelas Ghozali, Rabu (27/5).
Ghozali menambahkan, pusat penyembelihan kurban MTA dibagi menjadi tujuh titik yang tersebar di Solo Raya.
Di Makam Haji, penyembelihan dilaksanakan empat hari dan akan didistribusikan secara merata di berbagai daerah.
Baca Juga: Jagal Terlambat Datang, Sapi Kurban Presiden Prabowo di Solo Sempat Molor Disembelih
Sasaran distribusi daging meliputi Kecamatan Colomadu, Karanganyar; Kecamatan Baki, Sukoharjo; serta Kota Solo.
Saat Idul Adha tahun lalu, kebutuhan besek mencapai 175 ribu buah untuk distribusi daging kurban.
“Tahun lalu kami kurban 686 ekor sapi dan 5.233 ekor kambing di tujuh titik. Kebutuhan beseknya mencapai 175 ribu buah,” imbuh Ghozali.
Tahun ini, jumlah kambing yang disembelih di pusat sebanyak 978 ekor ditambah 115 ekor sapi. Diperkirakan akan menghabiskan sekira 30 ribu besek untuk empat hari.
“Sama seperti tahun kemarin, produksi besek mencapai 30 ribu buah. Itu tidak hanya memenuhi kebutuhan warga MTA, tetapi juga untuk masyarakat sekitar,” bebernya.
Menurut Ghozali, besek dipilih karena lebih ramah lingkungan dibanding plastik sekali pakai. Selain mudah terurai, besek juga mampu menjaga kualitas daging lebih awet.
“Ketika besek dibuang, tidak akan menjadi polusi tanah. Selain itu, kalau pakai besek ada pori-porinya, apalagi diberi alas daun jati. Dagingnya lebih awet. Kalau pakai plastik kan gampang busuk,” jelasnya.
Meski demikian, Ghozali mengaku penggunaan besek memberikan tantangan tersendiri. Mengingat jumlah perajin besek lambat laun semakin berkurang.
Alhasil panitia penyembelihan sudah harus memesan setahun sebelumnya.
“Secara ekonomis nilainya lebih mahal, tapi kami tetap pakai besek. Sekarang kan yang produksi besek semakin sedikit. Kalau tidak pesan setahun sebelumnya, tidak mungkin terpenuhi,” ungkapnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto