Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Percaya Ramalan Nasib

Antonius Christian • Jumat, 29 Mei 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi pasangan Temon dan Sipon bertengkar gara-gara terlalu percaya ramalan nasib. (AI GENERATED)
Ilustrasi pasangan Temon dan Sipon bertengkar gara-gara terlalu percaya ramalan nasib. (AI GENERATED)

RADARSOLO.COM - Kisah perceraian pasangan Temon dan Sipon, warga Kecamatan Banjarsari di Pengadilan Agama (PA) Solo cukup menarik perhatian.

Hancurnya rumah tangga mereka dipicu persoalan tak biasa.

Gara-garanya, Temon terlalu percaya ramalan nasib, perhitungan hari baik, dan berbagai pantangan dalam mengambil keputusan.

Sipon mengaku, di awal pernikahan tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaan suaminya yang gemar memperhitungkan hari baik.

Baca Juga: Kebun Binatang Pindah ke Rumah, Sipon Merajuk Gugat Cerai Temon

Namun lama-kelamaan, hal tersebut justru memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan rumah tangga mereka.

“Awalnya cuma soal memilih tanggal pindahan rumah atau beli barang. Saya pikir masih wajar,” ujar Sipon.

Namun menurutnya, kebiasaan tersebut semakin berlebihan. Keputusan-keputusan penting dalam rumah tangga sering tertunda, hanya karena dianggap belum memasuki waktu yang tepat.

Baca Juga: Temon Dan Sipon Jadi Korban Rasan-Rasan

“Kalau mau memperbaiki rumah harus tunggu hitungan tertentu. Mau memulai usaha tunggu hari baik. Bahkan beli barang kadang ditunda, karena katanya belum cocok harinya,” ujar Sipon.

Sipon mengaku kondisi tersebut membuat banyak rencana keluarga berjalan lambat dan tidak pasti.

“Kadang semuanya sudah siap, tapi mendadak dibatalkan. Katanya harinya tidak bagus,” sesalnya.

Sipon mengaku persoalan tersebut mulai memicu pertengkaran. Sebab urusan sehari-hari pun ikut dipengaruhi berbagai pantangan dan perhitungan.

“Pernah kami sudah janjian pergi, tapi dibatalkan. Katanya arah perjalanan hari itu kurang baik,” keluhnya.

Menurut Sipon, ia sempat mencoba memahami kepercayaan suaminya tersebut.

Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa kehidupan rumah tangga mereka terlalu dikendalikan oleh hal-hal yang sulit dilogika akal sehat. 

“Saya menghormati keyakinannya. Tapi kalau hampir semua keputusan harus menunggu tanda atau hitungan tertentu, lama-lama melelahkan,” katanya.

Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Pekerjaan Numpuk Picu Streess, Istri Jadi Pelampiasan Emosi

Sipon juga mengaku sering merasa tidak punya ruang untuk mengambil keputusan secara rasional. Banyak hal selalu dikaitkan dengan pertanda atau ramalan tertentu.

“Kadang masalahnya bukan hasilnya, tapi karena hidup jadi terasa serba takut ketika salah melangkah,” ujarnya.

Konflik kecil akibat perbedaan cara pandang tersebut semakin sering terjadi dan membuat hubungan mereka merenggang.

“Saya ingin hidup lebih sederhana dan realistis. Sementara, dia terlalu banyak pertimbangan yang menurut saya sulit dipahami. Ini bukan soal satu kejadian saja. Tapi karena pola hidup seperti itu terus terjadi bertahun-tahun,” bebernya kesal. (atn/fer)

Editor : fery ardi susanto
#sipon #temon #gono gini