RADARSOLO.COM – Polresta Solo menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo untuk memperkuat penanggulangan tuberkulosis (TBC) paru. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melibatkan seluruh Bhabinkamtibmas dalam pelacakan (tracing) kasus TBC hingga tingkat kelurahan.
Wakapolresta Solo AKBP Sigit mengatakan keterlibatan Bhabinkamtibmas diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus sekaligus memperluas jangkauan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
"Kolaborasi lintas sektor merupakan langkah strategis untuk mempercepat penemuan kasus dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Harapannya, angka penyebaran TBC di Kota Surakarta dapat ditekan," ujarnya.
Menurut Sigit, Bhabinkamtibmas memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat di wilayah binaannya. Mereka diharapkan mampu membantu mendeteksi warga yang memiliki gejala TBC maupun melakukan pendataan terhadap kontak erat pasien.
Selain melakukan pemantauan, Bhabinkamtibmas juga diminta aktif memberikan sosialisasi terkait gejala, pencegahan, dan penanganan TBC kepada masyarakat.
"Saya meminta seluruh Bhabinkamtibmas lebih teliti terhadap potensi penyakit TBC di wilayah binaan serta aktif memberikan edukasi kepada masyarakat," tegasnya.
Baca Juga: Miris! Dua Pelajar Di Baki Sukoharjo Terlibat Curanmor, Sikat Motor Ojol Kos
Kepala Dinkes Kota Solo dr Retno Erawati Wulandari mengatakan pengendalian TBC membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena tingginya mobilitas masyarakat yang keluar masuk Kota Solo.
Menurutnya, salah satu gejala utama yang perlu diwaspadai adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Warga yang mengalami gejala tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan lebih dini.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit, 75 Bhabinkamtibmas Polres Wonogiri Ikuti Skrining TB Paru
"Kota Surakarta menjadi daerah tujuan masyarakat dari berbagai wilayah sekitar. Karena itu diperlukan langkah pencegahan dan antisipasi yang lebih maksimal," katanya.
Retno menegaskan, upaya menekan angka kasus TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dukungan aparat kewilayahan, tokoh masyarakat, dan warga menjadi faktor penting dalam mempercepat penemuan serta pengobatan pasien.
Sementara itu, Kabiddokkes Polda Jawa Tengah Kombes Pol Agung Hadi Wijanarko mengingatkan bahwa TBC masih menjadi penyakit menular yang berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara tepat.
Menurut dia, tenaga kesehatan memiliki peran dalam diagnosis dan pengobatan, sedangkan Bhabinkamtibmas dapat membantu membangun kesadaran masyarakat serta mendorong warga yang bergejala untuk segera menjalani pemeriksaan.
"TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Karena itu dibutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk menanggulanginya," ujarnya.
Editor : Kabun Triyatno