Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Merawat Api Perjuangan Samanhudi: Kampung Batik Laweyan Hidupkan Warisan Ekonomi Pribumi lewat Wisata Sejarah

Kabun Triyatno • Minggu, 5 Juli 2026 | 19:22 WIB
Foto Samanhudi terpajang di Museum Samanhudi di Sondakan, Laweyan. (Luthfiana Sekar/Radar Solo)
Foto Samanhudi terpajang di Museum Samanhudi di Sondakan, Laweyan. (Luthfiana Sekar/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Di balik lorong-lorong tua Kampung Batik Laweyan, jejak perjuangan KH Samanhudi tidak pernah benar-benar hilang. Sosok saudagar batik sekaligus pelopor kebangkitan ekonomi pribumi itu masih hidup dalam denyut aktivitas masyarakat, mulai dari membatik, bergotong royong membangun kampung, hingga mengembangkan wisata sejarah yang mengajak publik mengenal akar perjuangan ekonomi bangsa.

Lebih dari satu abad setelah mendirikan gerakan yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Dagang Islam, gagasan Samanhudi tentang kemandirian ekonomi masih menjadi napas bagi masyarakat Laweyan.

Baca Juga: Batik Abstrak di Gang Sempit Kampung Laweyan Solo Sukses Tembus Pasar Mancanegara

Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) Alfa Fabela mengatakan, Samanhudi bukan sekadar tokoh sejarah. Baginya, Samanhudi adalah inspirasi yang terus mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan jati diri sebagai pelaku ekonomi yang mandiri sekaligus penjaga budaya.

"Semangat beliau tetap kami hidupkan. Bukan hanya lewat batik, tetapi juga melalui cara kami membangun masyarakat, menjaga budaya, dan mengembangkan ekonomi lokal," ujarnya.

Baca Juga: Batik Masuk Kurikulum Sekolah, Solo Bentengi Generasi Muda dari Putusnya Warisan Budaya

Laweyan Pernah Menjadi Benteng Ekonomi Pribumi

Pada awal abad ke-20, Laweyan dikenal sebagai salah satu pusat industri batik terbesar di Nusantara. Batik bukan sekadar produk budaya, melainkan komoditas bernilai tinggi yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Dari kawasan inilah lahir jaringan perdagangan batik yang menghubungkan berbagai sentra produksi di Indonesia.

Jika ditarik benang merah antarsentra batik kala itu, menurut Alfa, akan terlihat sebuah jaringan ekonomi pribumi yang sangat kuat. Bahkan, Laweyan pernah dikenal sebagai salah satu kawasan paling makmur di Indonesia karena geliat industrinya. Namun, perjalanan sejarah kemudian mengubah kondisi tersebut.

Baca Juga: Uniknya Batik Ciprat Karya ODGJ di Solo, Wali Kota Respati Siap Promosikan ke Nasional

Persaingan global, perubahan pola industri, hingga melemahnya sejumlah sentra ekonomi tradisional membuat mata rantai ekonomi yang dahulu kokoh perlahan terputus.

"Kalau dulu sentra-sentra batik saling terhubung dan saling menguatkan, sekarang banyak yang melemah. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab," katanya.

Menyambung Kembali Mata Rantai yang Terputus

Berangkat dari semangat itu, masyarakat Laweyan berupaya menghidupkan kembali filosofi perjuangan Samanhudi.

Bukan hanya mempertahankan industri batik, tetapi juga membantu mengembangkan sentra-sentra ekonomi lokal agar kembali tumbuh.

FPKBL bahkan memiliki gagasan melahirkan "Laweyan-Laweyan baru", yakni kawasan-kawasan berbasis potensi lokal yang mampu menjadi pusat ekonomi masyarakat sebagaimana Laweyan pada masa lalu.

Menurut Alfa, warisan terbesar Samanhudi bukan sekadar organisasi atau sejarah perjuangan. Yang lebih penting adalah nilai kemandirian, gotong royong, dan keberanian membangun kekuatan ekonomi secara bersama-sama. Nilai-nilai itulah yang hingga kini terus dipertahankan masyarakat Laweyan.

Gotong Royong Menjadi Fondasi

Semangat kebersamaan diwujudkan melalui Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Organisasi tersebut menjadi ruang kolaborasi warga dalam mengembangkan kawasan, mulai dari edukasi, promosi, pemasaran batik, hingga pengembangan wisata kreatif.

Melalui forum itu, masyarakat tidak hanya menjaga keberlangsungan industri batik, tetapi juga berupaya menciptakan peluang ekonomi baru berbasis budaya.

"Yang kami jaga bukan hanya produknya, tetapi juga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu," jelas Alfa.

Tantangan Tidak Lagi Sekadar Ekonomi

Meski demikian, menjaga Laweyan tetap hidup bukan perkara mudah. Menurut Alfa, tantangan terbesar saat ini justru datang dari aspek sosial dan budaya.

Sebagai kawasan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang beragam, dibutuhkan sikap saling menghormati, toleransi, dan kesediaan bekerja bersama agar pelestarian kawasan dapat berjalan berkelanjutan.

Selain itu, edukasi sejarah juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Banyak generasi muda mengenal batik Laweyan, tetapi belum memahami mengapa kawasan itu memiliki posisi penting dalam sejarah kebangkitan ekonomi bangsa.

Karena itu, masyarakat terus mendorong berbagai kegiatan edukatif agar tumbuh rasa memiliki terhadap warisan budaya sendiri.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Pengembangan Laweyan juga tidak bisa dilakukan sendirian. FPKBL mendorong pendekatan pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Sinergi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjaga kawasan tetap hidup sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan atau batiknya. Yang harus dijaga adalah ekosistemnya," ujar Alfa.

Menelusuri Jejak Samanhudi

Sebagai upaya mengenalkan kembali sosok Samanhudi kepada masyarakat, FPKBL mengembangkan Barokah Creative Tourism, sebuah konsep wisata berbasis komunitas yang memadukan budaya, sejarah, edukasi, dan kreativitas masyarakat.

Salah satu program unggulannya adalah Wisata Selusur Jejak KH Samanhudi. Melalui paket wisata tersebut, pengunjung diajak menyusuri lokasi-lokasi bersejarah di Laweyan, mengenal perjalanan hidup Samanhudi, melihat rumah-rumah saudagar batik, hingga memahami bagaimana sebuah kampung kecil pernah menjadi pusat kebangkitan ekonomi pribumi.

Program itu diharapkan menjadi jembatan antara generasi muda dengan sejarah bangsanya.

"Harapannya, orang tidak hanya mengenal Samanhudi sebagai nama jalan atau tokoh di buku sejarah, tetapi memahami nilai perjuangannya yang masih relevan hingga hari ini," pungkas Alfa.

Bagi masyarakat Laweyan, menjaga jejak Samanhudi bukan sekadar merawat masa lalu. Lebih dari itu, mereka sedang memastikan api perjuangan ekonomi rakyat tetap menyala di tengah derasnya perubahan zaman. (luthfiana sekar)

Editor : Kabun Triyatno
#Samanhudi #tokoh sejarah #ekonomi #laweyan #batik