RADARSOLO.COM - Puluhan butir telur satu epr satu dipecahkan ke tubuh peternak dalam aksi unjuk rasa di Gladak Solo, pada Selasa (7/7).
Aksi mandi telur menjadi simbol kekecewaan peternak ayam Solo Raya yang selama dua bulan terakhir terus merugi akibat harga ayam hidup dan telur anjlok, sedangkan biaya pakan membengkak.
Koordinator aksi Peternak Solo Raya Parjuni mengatakan, telur yang digunakan dalam aksi merupakan telur yang sudah lama menumpuk di kandang karena sulit terjual.
Daripada dibuang, telur tersebut dipakai sebagai simbol protes agar pemerintah melihat langsung kondisi peternak.
Baca Juga: Harga Telur Ayam Fluktuatif, Pedagang Pasar Legi Solo Waswas Stok Banyak
"Telur ini sudah tidak laku. Daripada dibuang, kami pakai untuk mandi telur sebagai bentuk protes. Kami ingin pemerintah tahu kondisi peternak saat ini," ujarnya.
Aksi tersebut diikuti sekitar 100 peternak dari Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Solo. Mereka membawa sekitar 80 ekor ayam hidup serta 50 kilogram telur.
Sebagian ayam dan telur matang dibagikan kepada masyarakat, sedangkan pulahn kilogram telur mentah digunakan untuk aksi mandi telur.
Parjuni mengungkapkan, harga ayam hidup di tingkat peternak kini hanya sekitar Rp13 ribu per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp19.500 hingga Rp20 ribu per kilogram.
Sementara harga telur hanya berkisar Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah sebesar Rp24 ribu per kilogram.
Menurutnya, jatuhnya harga harga dipicu kelebihan pasokan ayam dan telur di pasar. Pemerintah dinilai belum optimal mengendalikan produksi, termasuk pengaturan impor grand parent stock (GPS) yang berdampak pada melimpahnya populasi ayam beberapa tahun berikutnya.
"Kalau suplai tidak dikendalikan, over suplai akan terus terjadi. Padahal kebutuhan masyarakat sebenarnya sudah bisa diprediksi dari data pemerintah," katanya.
Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat. Harga pakan naik sekitar 5 hingga 7 persen sehingga membuat biaya produksi peternak semakin tinggi. Namun, kenaikan biaya paakan tidak diikuti dengan perbaikan harga jual di dari kandang.
Dokter hewan sekaligus Ketua Peternak Boyolali Bersatu Krishandrika Imanuel Rahardjo menilai, kebijakan pemerintah justru semakin membebani peternak.
Ia menyoroti penurunan HAP telur dari sebelumnya Rp26.500 menjadi Rp24 ribu per kilogram di tengah kenaikan harga bahan baku pakan.
"Harga bahan dasar pakan kita selerti jagung dan kedelai itu naik, tapi HAP sumber protein termurah dari telur malah diturunkan," ujarnya.
Menurut Kris, harga telur di tingkat peternak bahkan sempat menyentuh Rp16.500 per kilogram. Di sisi lain, harga bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan naik hingga Rp2 ribu per kilogram.
Baca Juga: Harga Telur Merangkak Naik, BUMDes Di Polokarto Sukoharjo Justru Jual Lebih Murah
Harga jagung yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.500 per kilogram juga saat ini sudah mencapai Rp6.800 hingga Rp7 ribu per kilogram.
"Kalau harga telur naik pemerintah cepat melakukan operasi pasar. Tapi ketika harga di kandang jatuh seperti sekarang, peternak dibiarkan menanggung kerugian sendiri. Kami hanya meminta regulasi yang adil," tegasnya.
Ia memperkirakan peternak kehilangan sekitar Rp9 ribu hingga Rp10 ribu untuk setiap kilogram telur yang dijual. Kerugian tersebut terus membesar seiring tingginya biaya produksi serta turun permintaan pasar.
Melalui aksi tersebut, peternak mendesak pemerintah segera mengembalikan harga ayam di atas HPP dan harga telur sesuai HAP, mengendalikan impor bibit maupun bahan baku pakan, serta membentuk Kementerian Peternakan agar persoalan sektor ternak mendapat perhatian lebih serius.
"Kami tidak ingin terus-terusan mandi telur. Yang kami inginkan harga yang layak dan kebijakan yang benar-benar melindungi peternak rakyat," pungkas Parjuni. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto