Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Balada Temon Dan Sipon: Dahsyatnya Ucapan Matur Nuwun

Antonius Christian • Jumat, 10 Juli 2026 | 18:16 WIB

 

Ilustrasi Sipon kesal gara-gara suaminya, Temon tidak pernah berterima kasih dan menghargai usahanya sebagai ibu rumah tangga. (AI GENERATED)
Ilustrasi Sipon kesal gara-gara suaminya, Temon tidak pernah berterima kasih dan menghargai usahanya sebagai ibu rumah tangga. (AI GENERATED)

RADARSOLO.COM - Mengucap terima kasih memang sederhana, namun besar sekali dampaknya.

Karena dengan terima kasih, orang akan merasa dihargai.

Tak terkecuali di lingkup rumah tangga. Ucapan “sakti” inilah yang jadi penyebab utama peceraian Temon dan Sipon, warga Kecamatan Banjarsari, Solo.

Bukan karena persoalan ekonomi atau orang ketiga.

Rumah tangga Temon dan Sipon retak, gara-gara ada satu pihak yang merasa tidak dihargai.

Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Rekaman Suara Jadi Senjata

Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Kota Solo kabulkan gugatan cerai yang diajukan Sipon, setelah mempertimbangkan hubungan dengan Temon tak lagi harmonis.

Ditemui usai sidang, Sipon mengaku sudah bertahun-tahun berusaha menjalankan perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin.

Baca Juga: Balada Temon dan Sipon: Korban FOMO 

“Saya merasa semua pengorbanan dan usaha dianggap sesuatu yang biasa. Paling saya rindukan sebenarnya sederhana, hanya minta dihargai,” ujar Sipon.

Menurut Sipon, Temon hampir tidak pernah menghargai usahanya. Jangankan keputusan besar, hal-hal kecil saja Temon terkesan cuek.

“Bukan minta hadiah atau sesuatu yang mahal. Kadang ucapan 'terima kasih' atau 'kamu sudah capek ya', itu saja sudah cukup,” beber Sipon.

Sebagai ibu rumah tangga, Sipon sudah menjalankan semua perannya.

Mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga membantu mengatur berbagai kebutuhan keluarga. Namun, semua itu dianggap rutinitas tanpa ada rasa terima kasih. 

“Kalau semuanya dianggap kewajiban, lama-lama seperti pembantu rumah tangga. Bukan menjalani rumah tangga,” sesalnya.

Baca Juga: Balada Temon dan Sipon: Candu Belanja Online

Sipon mengaku beberapa kali mencoba menyampaikan perasaannya kepada Temon. Namun sang suami beranggapan, tindakan lebih penting daripada kata-kata.

“Dia bilang, yang penting kan kebutuhan keluarga terpenuhi. Tapi bagi saya, perhatian itu juga penting,” bebernya.

Menurut Sipon, minimnya apresiasi membuatnya perlahan kehilangan semangat untuk membangun hubungan yang hangat.

“Rasanya apa pun yang saya lakukan tidak ada artinya. Tidak ada yang benar dan tidak pernah dianggap,” ujarnya.

Situasi tersebut berlangsung bertahun-tahun. Hingga akhirnya kesabaran Sipon memuncak.

“Kalau setiap hari tidak dihargai, lama-lama capek sendiri,” jelasnya.

Sipon menegaskan, penyebab perceraian bukan karena satu kejadian tertentu. Melainkan akumulasi dari perasaan yang terus dipendam.

“Orang sering berpikir rumah tangga rusak karena masalah besar. Padahal, kadang karena hal kecil yang tidak pernah diperhatikan, lama-lama jadi masalah besar,” katanya.

Sipon berharap kisah rumah tangganya menjadi pelajaran bagi pasangan lain.

“Jangan pelit mengucapkan terima kasih kepada pasangan. Kalimat sederhana itu mungkin sepele, tapi bisa membuat seseorang merasa dihargai,” ujarnya. (atn/fer)

Editor : fery ardi susanto
#temon dan sipon #sipon #perceraian #temon