RADARSOLO.COM – Harapan keluarga Mohamad Aris sempat kembali tumbuh ketika kondisinya mulai membaik pascaamputasi tangan kanan. Namun, harapan itu pupus. Setelah berjuang selama 10 hari di ruang perawatan, pekerja PLTSa Putri Cempo tersebut akhirnya meninggal dunia pada Minggu (12/7).
Ditemui di rumah duka di Kampung Bororejo RT 02 RW 03, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, kakak korban, Mohamad Soehib menceritakan, perjuangan saudara kembarnya sejak mengalami kecelakaan kerja hingga mengembuskan napas terakhir.
Begitu menerima kabar adiknya mengalami kecelakaan saat bekerja di PLTSa Putri Cempo pada Kamis (2/7), Soehib langsung menuju RS Dr. Oen Kandang Sapi.
Baca Juga: 10 Hari Dirawat, Korban Kecelakaan PLTSa Putri Cempo Meninggal
Kondisi Aris saat itu sangat kritis. Selain mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh, korban juga mengalami kerusakan saraf dan pembuluh darah yang cukup parah.
"Tangannya patah, sarafnya putus. Tulang iga nomor dua sampai sembilan patah. Lengan juga patah beserta otot dan pembuluh darahnya. Operasi pertama dilakukan dari jam empat subuh sampai jam sembilan pagi," tutur Soehib.
Sempat Membaik Setelah Amputasi
Karena kerusakan pada tangan kanan tidak dapat diselamatkan, tim medis akhirnya memutuskan melakukan amputasi.
Baca Juga: Dua Kecelakaan dalam Empat Bulan, DPRD Desak Audit Total PLTSa Putri Cempo
Keputusan berat itu justru sempat membawa perkembangan positif. Aris mulai sadar, bisa berkomunikasi, bahkan telah menerima kondisi tubuhnya.
Ia juga sudah bisa menerima kunjungan keluarga, tetangga, dan rekan-rekan kerjanya.
Namun kondisi itu tak berlangsung lama.
Pada Jumat (10/7), Aris mengalami kejang-kejang akibat gangguan pada paru-parunya. Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Minggu pagi sekitar pukul 09.30 WIB.
"Sebelum meninggal sempat kejang-kejang. Kata dokter karena kondisi paru-parunya," ujar Soehib.
Baru Bekerja Beberapa Bulan
Kepergian Aris menjadi pukulan berat bagi keluarga. Apalagi, pria 44 tahun itu baru bekerja beberapa bulan sebagai petugas pemilah sampah di PLTSa Putri Cempo.
Baca Juga: Lagi-lagi Kecelakaan Kerja di PLTSa Putri Cempo, Wali Kota Solo Ultimatum Operator
Menurut Soehib, adiknya mulai bekerja setelah kecelakaan kerja sebelumnya yang juga merenggut nyawa seorang pekerja di lokasi yang sama.
Saat itu, Aris menjadi tulang punggung keluarga karena Soehib sendiri sedang tidak bisa bekerja akibat mengalami kecelakaan.
"Belum lama kerja, baru beberapa bulan. Waktu saya jatuh dan tidak bisa bekerja, adik saya yang semangat mencari nafkah. Makanya saya sangat terpukul," katanya.
Kini, Soehib hanya tinggal berdua bersama ibunya.
Meski masih diselimuti duka, keluarga menyerahkan seluruh proses santunan dan hak ketenagakerjaan kepada pemerintah maupun pihak perusahaan yang sedang mengurusnya.
Namun, satu harapan besar disampaikan keluarga agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
"Pemerintah kota sudah membantu mengurus, Komisi III juga mendampingi. Dari perusahaan juga menyanggupi hak-haknya. Tapi harapan kami sederhana, keselamatan kerja di PLTSa benar-benar diperbaiki supaya tidak ada lagi korban berikutnya," tegas Soehib. (ves)
Editor : Kabun Triyatno