RADARSOLO.COM – Kampung Batik Laweyan kembali jadi pusat perhatian pecinta budaya. Sebanyak 100 karya umbul-umbul batik dipamerkan dalam "Festival Umbul-Umbul Batik" yang digelar di kawasan kampung batik tertua di Solo tersebut.
Ketua Panitia Festival Tino Hengky mengatakan, festival ini digagas untuk memvisualisasikan batik ke ruang publik agar bisa dinikmati lebih luas oleh masyarakat.
"Festival ini semacam cara kami membawa batik keluar dari ruang pamer. Kami ingin tunjukkan bahwa batik bisa dinikmati di tempat umum, di jalanan, dan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari," ujar Tino Hengky saat ditemui di Laweyan, Rabu.
Baca Juga: Pemkab Karanganyar Perkuat Pendidikan Inklusif Sejak Usia Dini
Tino menjelaskan, Festival Umbul-Umbul Batik direncanakan akan digelar secara rutin setahun sekali selama 3 tahun. Untuk penyelenggaraan kali ini, peserta masih dibuka secara umum. Mayoritas berasal dari pelajar se-Jawa Tengah. Namun panitia juga mencatat ada peserta yang ikut dari Jawa Barat.
"Antusiasmenya bagus. Ini membuktikan batik punya daya tarik lintas daerah. Harapannya ke depan pesertanya bisa lebih luas lagi," tambahnya.
Mengusung tema "Sepanjang Masa", festival ini memberi kebebasan peserta dalam memilih motif. Namun ada syarat wajib: bahan yang digunakan harus kain batik, baik batik tulis maupun batik cap.
"Kenapa harus batik? Karena tujuannya jelas, menggerakkan masyarakat untuk melestarikan batik. Kalau umbul-umbulnya pakai kain biasa, pesannya tidak sampai," jelas Mas Tino.
Baca Juga: Maksimalkan Hasil Panen, Pangdam IV/Diponegoro Serahkan Alsintan ke Petani Tasikmadu
Total 100 karya umbul-umbul dipamerkan dan dipasang di sepanjang jalan utama Kampung Batik Laweyan. Dengan latar bangunan lawas khas Laweyan, umbul-umbul batik dengan beragam motif itu menciptakan suasana visual yang berbeda.
Menurut panitia, selain sebagai ajang kreativitas pelajar, festival ini punya misi besar: menggerakkan masyarakat untuk melestarikan batik.
"Lewat umbul-umbul ini kami ingin ngajak semua orang bangga pakai batik. Batik itu bukan cuma buat kondangan atau acara resmi. Batik bisa jadi dekorasi, bisa jadi identitas kampung, dan bisa jadi ekonomi kreatif," pungkas Tino.
Warga dan wisatawan yang datang ke Laweyan selama festival berlangsung tampak antusias berfoto dengan latar umbul-umbul batik. Panitia berharap, melalui kegiatan ini, generasi muda semakin cinta dan ikut menjaga warisan batik Indonesia. (rif/nik)
Editor : Niko auglandy