RADARSOLO.COM - Di balik angka-angka performa dan pengakuan akademis dari birokrat kampus, denyut nadi utama bisnis jasa layanan Antar Jemput Mahasiswa (Anjem) di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, sejatinya berada di tangan mereka yang bergerak dari akar rumput.
Bagi konsumen, layanan ini adalah penyelamat mobilitas yang ramah kantong.
Sedangkan bagi para driver, setiap tarikan gas adalah cara untuk menyambung napas finansial di perantauan.
Sistem berbasis komunitas ini secara alami menciptakan ekosistem gotong royong nan unik.
Baca Juga: Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo, Coba Mendobrak Hegemoni Ojol
Hubungan yang terbangun bukan lagi sekadar antara penyedia jasa yang kaku dengan konsumen, melainkan ruang saling membantu antar sesama mahasiswa.
Seorang di antaranya Annisa Latifah Ismi.
Baginya, menjadi driver Anjem bukan sekadar mengisi waktu luang di sela jadwal kuliah. Kerjaan sampingan ini suatu ikhtiar agar bisa bertahan menuntut ilmu di Kota Solo.
“Aku bayar kos sendiri, biaya sehari-hari juga sendiri. Jadi, mau tidak mau harus cari sampingan biar bisa tetap hidup di Solo,” ujar Annisa.
Baca Juga: Revitalisasi Keraton Dimulai, LDA Siap Buka Paksa Akses Bergembok
Setiap rupiah yang dihasilkan dari mengitari rute-rute pendek sekitar kampus, dikumpulkan Annisa dengan telaten.
Pendapatan harian itu dikelola dengan cermat demi menutup kebutuhan pokok yang mendesak.
“Pendapatan dari Anjem biasanya aku sisihkan buat bayar kos dan makan. Bahkan waktu KKN (kuliah kerja nyata), hasil dari Anjem ini benar-benar sangat membantu keuanganku,” imbuhnya.
Bagi mahasiswa mandiri yang harus memeras keringat seperti Annisa, ekosistem Anjem jauh lebih adil dan berpihak.
Sangat kontras dibandingkan korporasi aplikasi ojek online (ojol) resmi, yang menerapkan sistem bagi hasil.
“Kalau di aplikasi resmi itu ada potongan dari setiap orderan yang masuk. Jadi uang bersih yang diterima berkurang. Beda dengan Anjem, bayaran dari penumpang langsung masuk ke kantong driver tanpa potongan sepeser pun,” jelas Annisa.
Selain keuntungan finansial, jangkauan operasional juga menjadi alasan mengapa ia betah bertahan di balik kemudi Anjem.
“Jarak tempuh layanannya dekat, dominan hanya di sekitaran Jebres-Kentingan. Jadi, pengeluaran untuk bensin jauh lebih ngirit,” bebernya.
Di ujung rantai kebutuhan yang berbeda, keluwesan dan kecepatan gerak armada Anjem menjadi solusi jitu bagi mahasiswa yang tidak memliki kendaraan pribadi.
Faktor kecepatan respons di grup WhatsApp (WA) dan kepastian tarif flat yang murah, menjadi alasan utama layanan ini kadung melekat di hati para pelanggan.
Inilah yang dirasakan Aulia Futihatul Umah, mahasiswa UNS yang kos di Kentingan. Ia mengaku hampir setiap hari menggantungkan mobilitasnya pada driver Anjem.
“Karena aku tidak ada kendaraan pribadi di Solo. Jadi, kalau jam berangkat kuliah sudah mepet, aku selalu pakai Anjem,” ujar Aulia.
Di tengah padatnya jadwal akademis dan organisasi, menit-menit menuju pergantian jam kuliah sering kali menjadi momen yang sangat krusial bagi Aulia.
Kehadiran driver yang sigap adalah kunci agar tidak tertinggal.
“Kadang dalam sehari bisa pesan dua sampai tiga kali kalau kegiatan di kampus lagi padat-padatnya,” lanjutnya.
Bagi Aulia, kerumitan membuka aplikasi ojol reguler atau menunggu penyesuaian tarif dinamis (surge pricing) saat jam sibuk sering kali membuang waktu berharga.
Alur pemesanan Anjem yang memangkas seluruh birokrasi digital itu justru menjadi penyelamat praktis dengan harga yang pasti.
“Keuntungannya itu tinggal pesan lewat obrolan chat, langsung dibalas cepat, lalu driver-nya datang menjemput. Harganya sangat terjangkau, cuma Rp 5.000 untuk rute dalam kampus,” beber Aulia.
Baca Juga: MGN Pastikan Kawal Sidang, Sebut Jokowi Siap Hadir sebagai Pelapor
Sementara itu, Anjem juga melayani urusan perut dan logistik mahasiswa melalui layanan jasa titip (jastip).
Fleksibilitas tanpa batas inilah yang dirasakan manfaatnya oleh Faradilla Firdausa Rihhadatul ‘Aisy.
Sebagai konsumen, mahasiswa UNS ini tak perlu lagi merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk memesan sepiring makanan.
“Aku sering pesan makanan lewat Anjem, karena proses jastipnya gampang. Tinggal sebut mau beli makan di warung mana, nanti langsung dicarikan driver,” jelas Faradila.
Kecepatan armada dalam merespons kebutuhan mendesak di kalangan konsumen, juga disokong kesiapan para driver. “Respons mereka cepat, karena selalu banyak driver yang standby di dalam grup,” ujarnya.
Melalui rantai interaksi yang hangat dan humanis ini, Anjem membuktikan bahwa sistem berbasis komunitas mampu mempertemukan kebutuhan mahasiswa dengan tepat.
Cukup modal grup WA dan semangat saling bantu, kebutuhan transportasi yang murah serta peluang kerja tambahan yang adil dapat terwujud secara berdampingan di lingkup kampus. (anmer jilvandi/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo