Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo: Sistem Sociopreneur Yang Hidupkan Pasar Lokal

fery ardi susanto • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:38 WIB
Kepala Subdirektorat Kewirausahaan Mahasiswa UNS Susantiningrum. (Dok. Pribadi)
Kepala Subdirektorat Kewirausahaan Mahasiswa UNS Susantiningrum. (Dok. Pribadi)

RADARSOLO.COM - Komunitas Antar Jemput Mahasiswa (Anjem) di lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, kini bukan lagi riak kecil akan kreativitas mahasiswa.

Di mata birokrat kampus, layanan transportasi berbasis komunitas ini bertransformasi menjadi sebuah model nyata.

Berangkat dari ekosistem wirausaha sosial (sociopreneur) yang sehat, mandiri, dan berdampak luas.

Pengakuan tersebut datang dari Kepala Subdirektorat Kewirausahaan Mahasiswa UNS Susantiningrum.

Baca Juga: Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo: Dari Mahasiswa Untuk Mahasiswa

Menurutnya, Anjem merupakan salah satu teladan, di mana mahasiswa mampu membaca ceruk pasar secara presisi. 

“Anjem ini masuk kategori sociopreneur, karena esensinya memberikan kebermanfaatan langsung bagi mahasiswa lain. Model usaha ini jeli memanfaatkan peluang. Terutama bagi yang membutuhkan transportasi murah, atau mahasiswa yang sedang mencari tambahan pendapatan,” jelas Susantiningrum.

Melalui formulasi yang sederhana namun efektif, Anjem mempertemukan dua ujung kebutuhan pelik di ranah domestik kampus.

Kebutuhan mobilitas yang ekonomis, serta ketersediaan lapangan kerja paro waktu yang fleksibel di dekat ruang kuliah.

Baca Juga: Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo, Coba Mendobrak Hegemoni Ojol

Jika dilihat sepintas, operasional Anjem yang memanfaatkan WhatsApp (WA), terkesan sangat bersahaja.

Namun, Susantiningrum membeberkan lembar data internal yang mengejutkan. 

Di balik layar gawai para driver Anjem, terdapat ledakan angka yang membuktikan betapa masifnya perputaran jasa lokal ini.

Hingga saat ini, manajemen Anjem telah mengelola 11 grup WA dengan basis massa yang tidak main-main.

“Satu grup saja anggotanya bisa lebih dari seribu peserta. Jika ditotal, hampir 10 ribu mahasiswa bergabung dalam ekosistem ini. Sebuah validasi konkret, bahwa pasar lokal kampus UNS sangat besar,” imbuh Susantiningrum.

Daya serap pasar tersebut dibuktikan dengan catatan performa yang apik. Anjem sudah merampungkan lebih dari 50 ribu orderan.

Traffic harian yang padat tersebut disokong 52 driver aktif dari kalangan mahasiswa.

Baca Juga: Dari Ilmu Titen, Petani Manfaatkan Dasar Waduk Delingan Karanganyar Jadi Sawah Dadakan: Hujan Sekali, Tanaman Bisa Lenyap

Meski digerakkan lewat sistem komunitas, Anjem memiliki kapasitas tata kelola penawaran dan permintaan jasa yang optimal. Keberhasilan mempertahankan ritme bisnis ini juga tidak lepas dari faktor homogenitas konsumen.

“Konsumen jauh lebih nyaman saat dilayani sesama mahasiswa. Ada faktor keamanan psikologis yang tidak mereka dapat dari ojol reguler,” ujarnya.

Dari sudut pandang driver, sistem ini jauh lebih menguntungkan. Sebab omzet mereka utuh tanpa potongan.

Di masa depan, Susantiningrum melihat prospek keberlanjutan Anjem akan berada pada titik puncaknya. Dengan catatan Anjem berani melangkah ke ranah digitalisasi yang lebih mapan.

Sebab penggunaan grup WA ada batasan kapasitas. Maka, ke depan harus mulai didekatkan pada sistem teknologi terpadu.

“Jika ingin dikembangkan ke aplikasi atau platform digital yang stabil, kuncinya ada pada kekuatan infrastruktur sistemnya. Infrastruktur harus kuat agar proses layanan cepat dan transaksi berjalan lancar. Sentuhan teknologi itulah yang akan membuat skala bisnis ini berkelanjutan,” sarannya.

Di sisi lain, Anjem pernah mendapat tawaran suntikan dana stimulan melalui program hibah wirausaha mahasiswa dari UNS. Rentang pendanaannya mulai dari Rp 4 juta-Rp 15 juta per proposal yang lolos seleksi.

“Sayang momentumnya kurang pas, karena pendirinya keburu lulus. Padahal prinsip dasar universitas adalah menyediakan karpet merah bagi mahasiswa yang serius. Dana hibah ini sifatnya mutlak dukungan modal, bukan pinjaman,” bebernya. (anmer jilvandi/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
anjem antar jemput mahasiswa sociopreneur uns