RADARSOLO.COM - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Solo Raya tak melulu berlangsung di halaman kantor, sekolah, atau lapangan.
Senin (17/8), jalan raya justru berubah menjadi panggung bagi warga untuk menunjukkan kecintaan kepada Merah Putih.
Di Solo, sebanyak 150 lansia dari berbagai komunitas tampil kompak mengenakan pakaian bernuansa merah-putih. Sebagian mengenakan kebaya dan sanggul, lengkap dengan bendera kecil di tangan.
Tepat pukul 10.15, mereka membentangkan bendera raksasa berukuran 9 x 14 meter di perempatan Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi.
Aksi tersebut menjadi bagian dari peringatan detik-detik Proklamasi dan telah digelar selama tiga tahun berturut-turut.
Koordinator kegiatan Mayor Haristanto mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dikemas berbeda untuk menunjukkan antusiasme dan kecintaan warga terhadap Indonesia.
“Kami ingin membuktikan antusiasme warga Kota Solo dan rasa kecintaan sebagai warga negara Indonesia dengan cara yang berbeda. Kami memohon izin menggunakan perempatan Ngarsopuro untuk membentangkan bendera raksasa,” ujarnya.
Menurut Haristanto, peringatan Proklamasi bukan sekadar agenda tahunan.
Momentum tersebut harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus kembali mengingat arti kemerdekaan.
Keterlibatan perempuan berkebaya dan bersanggul memberikan warna tersendiri dalam aksi tersebut.
Penasihat Wanita Berkebaya Indonesia (WBI) Solo Raya Maria Immaculata Widaryani mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan.
Sekaligus menancapkan pesan kepada generasi muda, agar terus menjaga semangat membangun bangsa.
“Kami sudah terbiasa melakukan kegiatan ini setiap tahunnya sebagai salah satu cara menghargai jasa para pahlawan kita. Selain itu, juga untuk memberi support kepada generasi muda yang sudah berjuang untuk melanjutkan kemajuan Indonesia,” ungkapnya.
Maria berharap peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni. Masyarakat perlu menyadari bahwa kebebasan yang dinikmati saat ini lahir dari pengorbanan para pejuang.
Baca Juga: Libur Panjang HUT Kemerdekaan RI, Kampung Batik Kauman Diserbu Wisatawan
“Semoga kita semua sadar bahwa tanpa kemerdekaan dan jasa para pahlawan, kita tidak bisa apa-apa. Kita berjuang di era global ini dengan niat dan ilmu yang cukup,” tuturnya.
Dia juga menegaskan kebaya tidak semestinya dipandang sebagai pakaian yang membatasi aktivitas perempuan. Sebaliknya, kebaya menjadi salah satu cara merawat identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.
“Kami dari Wanita Berkebaya dan Bersanggul Indonesia, khususnya Solo Raya, berharap perempuan sadar bahwa berkebaya ini tidak akan membatasi aktivitas kita di mana pun juga,” tegasnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo