Orang Tua Curhat Anaknya Dislentik Guru, Disdik Solo: Tidak Ada Kekerasan, Kami Beri Pembinaan

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:07 WIB
Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Dugaan perlakuan kekerasan terhadap siswa kelas II SDN Harjodipuran menjadi sorotan setelah salah seorang wali murid mengungkapkannya melalui media sosial. Dalam unggahan di Threads, wali murid menyebut anaknya mendapat perlakuan tidak semestinya dari salah seorang guru kelas.

Akun @heyitstia88 mengungkapkan, anaknya diduga dislentik karena tugas matematika yang belum selesai.

"Saya menyadari anak saya memang kurang cepat, tapi kenapa harus dislentik, sampai dia nangis dan bilang 'guru harusnya baik ya mah'," tulisnya.

Wali murid tersebut juga mengaku menelusuri track record guru yang bersangkutan. Ia menyebut menemukan cerita serupa dari sejumlah murid lain, termasuk dugaan perlakuan menjambak dan menampar.

Baca Juga: DPRD Solo Usulkan Raperda Pelarangan Vape pada 2027

Aduan tersebut kemudian ditindaklanjuti pihak sekolah. Kepala SDN Harjodipuran Dwi Purwanti mengatakan, sekolah memberikan teguran lisan dan pembinaan kepada guru yang bersangkutan sejak Selasa (8/9/2026).

Sehari berikutnya, Rabu (9/9), pihak sekolah mempertemukan guru dengan wali murid untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dalam pertemuan itu, guru meminta maaf atas perlakuan yang dinilai tidak semestinya dan berjanji tidak mengulanginya.

Menurut Dwi, siswa yang bersangkutan kini sudah kembali masuk sekolah. Ia menilai hubungan siswa dengan guru tersebut juga sudah kembali membaik sehingga proses pembelajaran dapat berjalan seperti biasa.

Baca Juga: Guru SD Negeri Di Solo Berlebihan Tegur Siswa, Wali Murid Wadul Wali Kota

Wali Kota Solo Respati Ardi turut turun tangan dengan memberikan arahan serta memediasi kedua pihak. Respati meminta jajaran Disdik Kota Solo untuk mendalami aduan dari salah seorang orangtua siswa yang mengaku anaknya dicubit, ditampat hingga mengalami trauma yang dilayangkan via media sosial baru-baru ini. Pemkot bakal hati-hati dalam menelusuri aduan, namun jika benar sanksi tegas menanti sang pendidik yang dianggap melakukan kekerasan pada siswa. 

Resapti mengaku akan melakukan klarifikasi dulu dengan pihak terkait. Ini dilakukan agar dapat gambaran lebih jelas akan duduk perkara dan kejadian sesungguhnya. Oleh sebab itu mendengar keterangan dari kedua pihak menjasi hal yanb wajib dilakukan. 
Baca Juga: Pengurusan Sertifikasi Halal Ada Beberapa Skema, Sayang Kuota Gratis Terbatas
 
"Langsung kita mitigasi. Makanya kita tabayun dulu, akan kita kroscek, kalah memang benar gurunya (melakukan tindakan itu, Red) akan kita sanksi tegas," hemat Respati, Kamis (10/9). 
 
Pemkot Solo pun telah menugaskan Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno agar secara langsung mengawal aduan tersebut. Dari informasi yang diterima koran ini, Wali Kota Respati pun sempat datang ke sekolah terkait untuk menindaklanjuti hal itu. 
 
"Mention kemarkn langsung kita mitigasi dan kita datangi. Kita cek duki apakah kesalahan murid atau guru. Kalau memang guru akan kita sanksi," tegas Wali Kota. (ves) 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo Dwi Aryatno mengatakan, berdasarkan penanganan yang dilakukan, pihaknya tidak menyebut kejadian tersebut sebagai kekerasan fisik. Menurutnya, persoalan lebih mengarah pada sikap guru yang dinilai terlalu keras ketika memberikan teguran kepada siswa.

"Kalau bentuk kekerasan ya enggak. Mungkin lebih tepatnya sikap guru yang mungkin terlalu keras dalam memberi tahu atau mengingatkan lewat perkataan," kata Dwi saat ditemui di sekolah, Kamis (10/9/2026).

Meski demikian, Dwi menegaskan penggunaan kata-kata keras maupun bentakan dalam memberikan teguran tetap perlu dihindari. Pendekatan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak.

"Anak-anak sekarang mungkin ada beberapa yang tidak bisa kemudian dengan pendekatan keras," ujarnya.

Dwi mengatakan, guru tetap diperbolehkan memberikan koreksi terhadap perilaku siswa. Namun, cara menyampaikan teguran perlu disesuaikan dengan karakter anak dan perkembangan zaman.

"Bentuk penegasan itu mungkin akan berbeda zaman ketika dulu," katanya.

Atas persoalan tersebut, guru yang bersangkutan telah diberikan peringatan. Disdik bersama pihak sekolah juga memberikan pengarahan kepada seluruh guru setelah mediasi dengan orang tua siswa.

Evaluasi tidak hanya menyasar guru tersebut. Dwi mendorong adanya pembaruan pemahaman bagi para guru, khususnya guru senior, mengenai karakteristik peserta didik saat ini.

"Harus ada upaya untuk perubahan, perbaikan terhadap cara, metode, proses pembelajaran kita terhadap anak-anak sekarang," jelasnya.

Dwi berencana mengemas pembaruan tersebut dalam bentuk pelatihan pemahaman karakteristik lintas generasi. Materinya mencakup cara berkomunikasi, pendampingan, hingga pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa saat ini.

"Guru-guru senior ini memang harus mengikuti kondisi perkembangan yang saat ini dan mereka harus memahami karakteristik profil anak-anak sekarang," tandasnya.

Sementara itu, Dwi Purwanti menilai komunikasi antara guru senior dan guru yang lebih muda juga penting untuk menjembatani perbedaan generasi dalam proses pembelajaran.

"Ini sudah selesai, tadi juga Mas Wali ke sini, intinya, penanganan anak-anak perlu dibedakan karena disesuaikan dengan gaya pembelajaran sekarang," katanya. (alf/ves)

 
Editor : Kabun Triyatno
media sosial kekerasan solo Pembinaan guru