Kritik Isu Pendidikan Lewat Literasi, Pemudi Asal Solo Ini Buka Lapak Baca Gratis Pakai Sepeda

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:25 WIB
Destyn Ayu Safitri (kanan) aktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca lewat perpustakaan sepeda. Di sini, siapa saja bisa membaca buku secara gratis. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Destyn Ayu Safitri (kanan) aktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca lewat perpustakaan sepeda. Di sini, siapa saja bisa membaca buku secara gratis. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Kala Destyn Ayu Safitri mengayuh sepedanya dari kawasan Purwosari menuju area Sriwedari, Solo Sabtu pagi, suasana Jalan Slamet Riyadi masih lengang

Bukan sekadar olahraga pagi biasa, dara 24 tahun itu memboyong puluhan buku koleksi pribadinya untuk dihadirkan di tengah ruang terbuka publik.

Mengandalkan 33 judul buku dan sebuah sepeda, Destyn membuka lapak baca sederhana yang ia juluki sebagai perpustakaan sepeda.

Baca Juga: Asyik Foto Kampung Batik, iPhone 13 Malah Dijambret

Tiba di kawasan Sriwedari, Destyn memilih titik tempat beratap rindangnya pohon beringin.

Ia menggelar perlak cokelat dan menata deretan buku koleksinya secara rapi. Sebuah poster berisi ajakan membaca turut disandarkan pada sepeda yang terparkir tepat di samping lapaknya.

Destyn lantas mengambil novel favoritnya bertajuk 'Di Tanah Lada' karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, mencari penanda halaman terakhir sebelum kembali larut menyelami lembaran cerita.

Di sekelilingnya, aktivitas warga Solo mulai ramai.

Beberapa warga yang sedang berolahraga maupun berjalan santai tampak memperlambat langkah saat melihat deretan buku yang disajikan secara gratis tersebut.

Beberapa di antaranya berhenti sejenak untuk membolak-balik halaman dan membaca di tempat.

Baca Juga: BPBD Sukoharjo Tambah Peralatan Damkar, Antisipasi Lonjakan Kebakaran Musim Kemarau

Bagi Destyn, buku bukan sekadar pajangan di rak. Kecintaannya pada dunia literasi telah berakar sejak ia menduduki bangku kelas I SMP.

Kala itu, ia sudah terbiasa mengayuh sepeda menuju perpustakaan.

Dua hal yang amat dicintainya sejak kecil—buku dan sepeda—kini ia padukan menjadi sebuah gerakan sosial yang ingin ia bagikan kepada masyarakat luas.

“Sejak SMP kelas satu, aku suka buku. Waktu itu aku selalu ke perpustakaan naik sepeda,” kenang Destyn, Sabtu (26/9/2026).

Ia membeberkan bahwa buku pertama yang dikoleksinya secara pribadi adalah karya Henry Manampiring berjudul 'The Alpha Girls Guide'.

Bentuk 'Kritik Bijaksana' Anak Muda

Namun, peluncuran perpustakaan sepeda ke ruang publik ini bukan sekadar agenda untuk mengisi waktu luang akhir pekan.

Baca Juga: Festival Desa Wisata Desamorfosis 2026: Gali Potensi Budaya dan Ekonomi Lokal, Pacu 15 Desa Wisata Rintisan di

Destyn menegaskan bahwa lapak baca gratis tersebut lahir dari keresahan mendalam yang dirasakannya sebagai bagian dari generasi muda.

“Sebenarnya, awal memulai kegiatan lapak baca buku gratis ini adalah bentuk ‘amarah’ ku terhadap para penguasa yang sudah merampas hak-hak hidup kita,” tegas Destyn.

Destyn mengaku prihatin sekaligus geram menyoal tata kelola anggaran pendidikan.

Ia merasa masih banyak ketimpangan yang perlu diperjuangkan agar akses terhadap ilmu pengetahuan serta bahan bacaan makin terbuka lebar bagi seluruh lapisan warga.

Sebab itu, ia mengajak kaum muda untuk berani bersuara dan mengambil peran aksi nyata lewat cara-cara yang bijak.

“Sebagai perempuan aku mau ngajak kalian buat ayo ‘marah dengan bijaksana’ dan jangan diam. Kita masih punya harapan untuk sekeliling kita,” ungkapnya.

Gerakan perpustakaan sepeda ini dipilih sebagai medium ekspresi dan kritik sosial atas minimnya ruang baca publik yang mudah diakses.

“Perpustakaan sepeda ini adalah bentuk sarkasku untuk ‘mereka’. Sepeda dan bukuku lebih mulia,” tuturnya.

Di balik nada kritiknya, Destyn menyimpan harapan sederhana agar makin banyak masyarakat yang terbiasa membaca tanpa dibebani persoalan biaya.

Baca Juga: Festival Mbok Sri Dimeriahkan Tradisi Wiwitan, Petani Delanggu Klaten Suarakan Raperda Hilirisasi Rojolele

“Semoga aku bisa membagi bagian kecil ini ke sekelilingku dan berharap orang lain juga bisa suka membaca buku. Mau buku itu fiksi atau nonfiksi, tidak apa-apa,” jelasnya.

Meski lapak baca tersebut hanya hadir selama beberapa jam di pagi hari, bagi Destyn keberadaannya merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya.

“Aku suka buku dan sepeda. Aku senang bisa mewujudkan mimpi masa kecilku punya perpustakaan sepeda,” tuturnya Destyn. (alf)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
perpustakaan sepeda Destyn Ayu Safitri literasi lapak baca gratis kritik