Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pemain Rela Turun Kasta: Bukti Ada Anomali dalam Sepak Bola Tanah Air

Syahaamah Fikria • Minggu, 4 Juli 2021 | 14:55 WIB
Fajar Junaedi, Pakar Bola Indonesia. (JawaPos.com)
Fajar Junaedi, Pakar Bola Indonesia. (JawaPos.com)
PERGERAKAN Persis Solo di bursa transfer bikin banyak pihak geleng-gelang kepala. Dari 40 pemain yang sejauh ini direkrut, 25 di antaranya berlabel jebolan Liga 1. Lalu, apa latar belakang sederet bintang ini hingga sudi bermain untuk Laskar Sambernyawa?

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga periset budaya fans sepak bola Indonesia Fajar Junaedi coba beberkan fenomena yang terjadi di Liga 2 tersebut. Sebab, selain Persis, ada AHHA PS Pati FC dan Rans Cilegon FC yang ikut jor-joran musim ini.

Menurut pria yang akrab disapa Fajarjun ini, fenomena pemain Liga 1 rela terjun di Liga 2, bukti adanya anomali dalam sepak bola di Tanah Air. Sebab tata kelola sepak bola profesional, seperti piramida. Semakin ke atas, kian kompetitif bagi pemain.

“Sebagaimana diketahui, tata kelola sepak bola Indonesia masih buruk. Kasus klub yang menunggak gaji, sering terjadi sebelum pandemi Covid-19. Bisa jadi, pemain pilih Liga 2 karena jaminan kesejahteraan,” ungkap Fajarjun kepada Jawa Pos Radar Solo.

Penulis buku Merayakan Sepakbola ini menambahkan, aktivitas Persis jadi buah bibir. Tak hanya bagi para penggila bola saja. Namun juga para kompetitor. Banyak alasan, mengapa pemain rela turun kasta. Salah satunya nilai kontrak yang menggiurkan dibanding klub lamanya di Liga 1.

“Bagaimanapun, pemain profesional butuh jaminan kesejahteraan. Gaji layak dan terpenting tidak molor. Ini poin penting bagi pemain pro di Indonesia,” imbuhnya.

Soal rekrutan Persis yang sementara menyentuh 40 pemain, tergolong “gemuk”. Sebab biasanya, kuota maksimal pendaftaran peserta Liga 2 hanya di kisaran 30 pemain.

“Apa yang dilakukan Persis sekarang, bukti bahwa mereka brambisi lolos Liga 1. Perlu diperhatikan adalah sustainability (keberlanjutan) klub di masa depan. Terutama membangun akademi dan pembinaan pemain muda. Saya optimistis fans Persis Solo ingin ada putra daerah yang bersinar. Kemudian bisa masuk ke timnas,” bebernya.

Fajar juga menyoroti banyaknya public figure yang kepincut terjun kancah sepak bola nasional. Mulai dari Raffi Ahmad, Atta Halilintar, Putra Siregar, hingga Baim Wong. Positifnya, ini angin segar bagi pengelolaan klub secara profesional. Tapi ingat, ekosistem sepak bola Indonesia belum profesional. Jangan sampai angin segar ini, malah jadi gelombang kebisuan (spiral of silence), tanpa membawa perubahan.

“Sisi negatif lainnya, perubahan nama dan logo klub, menunjukkan ego para pemiliknya. Seharusnya nama klub lebih besar dari pemiliknya,” ungkapnya. (nik/fer/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#artis kepincut sepak bola #persis solo #anomali sepak bola tanah air #pemain bola turun kasta #fajar junaedi