ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Seorang pria parobaya sedang duduk di selasar SD N 2 Bonyokan, Jatinom, Klaten, dengan tongkat alat bantu jalan di depannya. Pria berkacamata itu adalah Suyamto, 45, yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga di sekolah tersebut. Sudah 18 tahun dia menjalani pekerjaan itu.
Sesekali pria ini tampak serius melihat ke layar handphone yang dipegangnya untuk mengetahui perkembangan anaknya yang bertanding di cabang panahan mewakili Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar 2021 ini. Kebetulan sang anak yakni Alviyanto Bagas Prastyadi turun di nomor beregu putra dan individual.
Rasa bangganya tampak jelas di raut wajahnya karena anaknya sementara ini bisa mengantarkan tim panahan beregu putra Indonesia ke babak 16 besar. Bersama rekan satu timnya yakni Riau Ega Agatha dan Arif Dwi Pangestu sudah dinanti Inggris yang akan bertanding pada Senin (26/7) ini.
Suyamto berharap sang anak bisa pulang dengan membawa medali sehingga bisa mengharumkan nama Indonesia di Negeri Matahari Terbit itu. Kini yang bisa dilakukan hanya berdoa untuk keberhasilan anaknya di tengah sakit gula yang sedang dideritanya.
“Semoga sukses dan membawa pulang prestasi terbaik. Bisa mengharumkan nama Indonesia,” ucap Suyamto.
Suyamto mengakui prestasi sang anak pada olaharaga panahan mengalami peningkatan pesat sejak duduk di kelas 4 SD. Hal ini berkat didikan sang ibu, Kusmiyanti, 39, yang juga mantan atlet panahan asal Klaten yang pernah tampil beberapa kali di ajang Pekan Olah Raga Nasional (PON).
Darah ibunya yang merupakan mantan atlet panahan memang mengalir begitu deras pada diri Bagas. Sejak duduk di bangku SD sudah bergabung di klub panahan Smartku di Dusun Sribit, Desa Pandeyan, Kecamatan Jatinom. Bagas juga alumnus Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Panahan Jawa Tengah di Semarang.
“Saya kan juga seorang pemanah. Mau tidak mau anak saya ikut latihan memanah sejak kelas IV SD. Waktu kelas VI SD saat ikut Popda Jateng sempat mendapatkan juara. Termasuk mengikuti sejumlah kejuaraan panahan selalu mendapatkan juara terus,” timpal Kusmiyanti.
Prestasinya yang mentereng itu membuat Bagas dipanggil ke PPLP Panahan Jateng sambil mengenyam pendidikan di bangku SMP dan SMA di Semarang. Hingga akhirnya bisa mencicipi menjadi juara di tingkat nasional. Termasuk dalam ajang invitation tournament Asian Games 2018 dia berhasil meraih medali perak di nomor recurve beregu putra.
Kusmiyanti mengungkapkan perjalanan anaknya bisa tampil di Olimpiade Tokyo 2020 tidak mudah. Bahkan sempat terseok-seok hingga akhirnya bisa membuktikan prestasinya meraih medali perak saat mengikuti Piala Dunia Panahan 2021 di Paris, Perancis pada nomor recurve beregu putra pada Juni lalu. Raihan itu membuat Bagas berhasil merebut satu tiket ke Olimpiade.
Usai dari Paris itu Bagas tidak sempat balik ke Klaten tetapi langsung ke Jakarta. Mengingat untuk persiapan keberangkatan ke Tokyo. Selama bertanding di Jepang, Bagas terus terjalin komunikasi secara intensif dengan orang tuanya melalui pesan aplikasi WhatsApp (WA).
“Kalau komunikasi dengan saya paling hanya saya tanyakan bagaimana latihannya. Saya tidak menyinggung terkait teknik sama sekali. Kalau soal itu biasanya dibicarakan dengan pelatih saja,” ucapnya.
Bagi Kusmiyanti pencapaian Bagas dengan tampil di Olimpiade sudah luar biasa. Dia sangat bersyukur sang anak bisa mewakili Indonesia di ajang olah raga empat tahunan itu. Apalagi prestasi yang diraih sudah melebihi dirinya saat berkarir menjadi atlet panahan. Padahal, awalnya dia hanya menginginkan Bagas bisa tampil di PON Papua pada tahun ini.
“Saya bersyukur banget atas capaian Bagas. Apalagi ini menjadi pengalaman pertama anak saya. Harapannya bisa meraih medali di nomor beregu putra maupun individual bagi Indonesia,” ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram