"Tujuh puluh lima tahun penuh perjuangan tiada henti demi kejayaan, Dirgahayu Laskar Harimau Merapi," tulis postingan ofisial PSIK Klaten di akun Instagram-nya (@psikklatenofficial).
Tanggal ulang tahun PSIK merujuk pada tanggal kelahiran 10 Oktober 1946. Tahun 1946 ternyata juga melekat pada lambang klub mereka.
Ada hal menarik ternyata yang Jawa Pos Radar Solo dapatkan. Dari penjelajahan di arsip koran-koran lama berbahasa Belanda hingga bahasa melayu yang terbit di era kolonial, ternyata PSIK sudah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.
Bahkan klub ini sudah memiliki klub anggota (klub internal) . Bahkan sejak 1930an klub ini sudah jadi anggota resmi PSSI. Bersama klub tetangganya, yakni Persis Solo hingga PSIM Jogja.
Sayangnya Jawa Pos Radar Solo belum menemukan catatan kepastian kapan tanggal kelahiran PSIK Klaten.
Arsip tertua yang Jawa Pos Radar Solo dapatkan soal PSIK, tercatat dalam koran Oetoesan Indonesia terbitan tahun 1934. Disitu reportase beberapa hal berbau PSIK. Diantaranya semua perlombaan sepak raga (nama lama sepakbola) di Stadion Trikojo (Trikoyo, red) akan diserahkan kepada PSIK pengelolaanya. Termasuk yang akan dijalani beberapa klub lokalnya, yakni MAS, PSB, HW, PPSW, MOS, dan Rosa.
Pada November 1934, PSIM Jogja mengundang PSIK dan Persis Solo mengikuti sebuah turnamen segitiga memperebutkan Madjelis Leloehoer Taman Siswa Beker di Lapangan Asri Jogja. PSIK dibantai dengan skor serupa 4-0 oleh PSIM dan Persis.
Musim 1935, PSIK tercatat ikut kompetisi PSSI. Di Tingkat distrik, PSIK masuk di grup Jateng 1. Salah satu skor yang dijalannya adalah saat jalag 1-2 dari PSIS Semarang. Di tingkat distrik, PPSM Magelang jadi juaranya, sedangkan Persis Solo jadi juara di distrik Jatim.
Pada 5 Juni 1935 PSIK bahkan dijadwalkan akan menantang tim PSSI Jateng di Klaten. Musim 1936, langkah wakil Klaten kembali hanya tertahan di tingkat distrik kompetisi PSSI. PSIK kalah tiga kali, yakni 0-3 dari wakil Jogja, 1-3 melawan klub dari Semarang, 1-2 dari tim dari Magelang. PSIk hanya bisa menang saat melawan Salatiga, yang dikalahkan 4-1.
Dalam catatan koran Olahraga terbitan bulan Maret 1937, terdapat daftar klub-klub anggota baru PSSI. PSIK Klaten dipimpin oleh Soenardi. Bond lain yang juga baru bergabung dengan PSSI, antara lain adalah Ksatrya Sragen, Rens Bojonegoro, PSKS Kedoe Selatan, PESISS Salatiga, hingga PSIW Wonosobo.
Sebelum Indonesia merdeka hampir setiap tahun PSIK mengikuti kompetisi di bawah patung PSSI. Catatan terakhir zaman kolonial soal ekstensi PSIK, terlihat di koran Panjebar Semangat bahwa Persis Solo jadi juara grup VI di babak distrik PSSI. Dimana grup VI diikuti tiga klub, yakni Persis, PSIK, dan Ksatrya Sragen. Hasil pertandingannya, PSIK kalah 0-4 melawan Persis, dan bermain imbng 0-0 dengan wakil Sragen.
Di era tersebut, ternyata selain nama PSIK, ada juga penamaan klub Persik Klaten atau kadang ditulis PerSIK di beberapa literasi lama di tahun 1930an-1940an. Sayang Jawa Pos Radar Solo belum bisa memastikan PSIK dan Persik adalah satu klub yang sama, atau memang berbeda. Lebih banyak penulisan nama PSIK memang di semua berita yang berbau hasil pertandingan distrik PSSI. (nik) Editor : Niko auglandy