Sejatinya, performa Dedi Cahyono Putro di kompetisi kasta ketiga di tanah air tak jelek-jelek amat. Di Liga 3 Zona Jateng, Persebi nyaris tanpa cela. Mampu menyapu bersih seluruh pertandingan, sejak babak penyisihan hingga semifinal.
Satu-satunya aib yang diderita wakil Kota Susu, terjadi di babak final. Di luar dugaan Persebi dibabat lima gol tanpa balas di Stadion Moch Soebroto Magelang, 15 Desember silam. Meski hanya menjadi runner-up, Persebi tetap berhak melaju ke putaran nasional.
“Bagi saya, semua pemain sudah berjuang dengan semangat luar biasa. Bisa sampai babak 32 besar nasional, sejatinya merupakan pencapaian yang cukup bagus,” kata pelatih Persebi Boyolali Haryadi “Puthul”, Kamis kemarin (24/2).
Di babak 36 besar putaran nasional, Persebi kembali membuktikan taringnya. Mereka keluar sebagai juara grup dengan catatan dua kali menang dan sekali seri. Sayang di babak 32 besar, Persebi hanya mampu menduduki peringkat ketiga. Hasil dari sekali menang dan dua kali kalah.
“Ini pembelajaran bagi saya sebagai head coach. Saya bilang ke anak-anak, apapun hasilnya, yang terpenting bisa menjadi pembelajaran bersama,” imbuh eks pemain Persis Solo tersebut.
Sementara itu, Haryadi mengawali karir di ajang Liga 3 Zona Jateng sebagai asisten pelatih Persebi. Membantu kinerja Gatot Barnowo yang ditunjuk sebagai juru taktik. Sayang, Gatot Barnowo diberhentikan setelah gagal membawa timnya juara. Alhasil Haryadi diangkat jadi pelatih kepala di putaran nasional.
“Manajemen Persebi sangat luar biasa. Tidak pernah ada tunggakan gaji pemain. Mereka memberikan fasilitas yang terbaik bagi pemain. Tapi ya itu. Kami gagal karena sering dikerjai wasit,” keluhnya. (nik/fer) Editor : Damianus Bram