RADARSOLO.COM - Dance Art Smanda -nama tim dance SMAN 2 Pubalingga- menggaum di tengah Sritex Arena, Kamis (18/9/2025). Dentuman musik, gerakan mereka bikin bulu kuduk berdiri sekaligus kagum dalam sajian yang ditampilkan pada Azarine DBL Dance Competition 2025.
Mereka mengangkat kisah tentang hutan dan satwa di dalam suguhannya. Koreografi dibuka dengan adegan penuh energi. Teruakan lantang makhluk hutan yang marah karena tempat tinggalnya dirusak manusia.
"Di awal kami berteriak yang mana artinya, hai manusia yang bisa bersinar, kami akan tunjukkan. Kurang lebih seperti itu," jelas Kapten Dance Art Smanda Tifara Esa Safira kepada Jawa Pos Radar Solo usai tampil di pertengahan babak basket sekolahnya.
Kostumnya pun sangat mendukung. Mereka menggunakan busana dengan aksen tutul coklat. Tak berhenti di sana, riasan wajah mereka juga menunjukkan ketegasan. Ditambah semprotan rambut yang berwarna coklat yang kian menggambarkan sesosok hewan.
Lantas, mengapa memilih tema ini? Tifara menjelaskan bahwa pengambilan tema berdasarkan saran dari sang pelatih. Nuansa tradisional dipadukan dengan sentuhan modern, sehingga tetap selaras dengan karakter Solo sebagai kota budaya.
"Solo (tempat DBL Central Java - South dilangsungkan) ini kan tempatnya budaya, jadi kita mau bikin ada tradisionalnya untuk DBL tahun ini," lanjutnya.
Menariknya, penciptaan karya ini tak lama. Mereka hanya memakan waktu sekitar tiga pekan untuk menyelesaikan tarian dance ini. Latihan penuh di bawah arahan pelatih dilakukan lima kali, sisanya para personel berinisiatif mengasah gerakan secara mandiri.
"Total ada 11 penari, semuanya datang ke Solo bersama rombongan tim basket menggunakan travel," sambungnya.
Soal target, Dance Art Smanda enggan muluk-muluk. “Minimal bisa masuk nominasi. Kalau bisa sampai juara 3, itu sudah jadi bonus. Yang terpenting kami dapat pengalaman berharga dan cerita indah untuk ke depannya," pungkasnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy