RADARSOLO.COM - Di sebuah sudut lapangan, suasana mendadak senyap. Hanya terdengar deru halus roda kursi roda yang bergesekan dengan lantai dan napas yang diatur sedemikian rupa. Seorang atlet dengan keterbatasan gerak tampak memicingkan mata, jemarinya yang kaku berusaha mencengkeram bola kulit berwarna merah. Di sampingnya, Andrian Martgatha, 34, berdiri dengan tatapan teduh namun tajam, memberikan aba-aba yang lebih mirip sebuah bisikan semangat.
Andrian bukan sekadar pelatih. Sejak 2017, pria asal Solo ini telah mewakafkan sebagian besar waktunya untuk menjadi "mata dan tangan" bagi para penyandang cerebral palsy di cabang olahraga Boccia. Baginya, setiap lemparan bola bukan sekadar upaya mencari poin, melainkan pembuktian bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari sebuah prestasi.
Perjalanan Andrian dimulai saat Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Asian Para Games 2018. Kala itu, Boccia adalah barang baru di tanah air. Andrian yang saat itu masih awam, ditantang oleh salah satu dosen Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk mencari mutiara tersembunyi dari panti-panti asuhan dan SLB.
“Waktu itu kami benar-benar mulai dari nol. Kami keliling ke YPAC dan SLB. Jangankan tekniknya, bahkan klasifikasi atletnya saja kami masih meraba-raba,” kenang Andrian saat berbincang hangat, Rabu kemarin (14/1).
Boccia memang unik. Olahraga ini menuntut akurasi lemparan bola seberat 275 gram menuju sasaran bola putih bernama jack. Namun, di balik kesederhanaannya, ada strategi rumit yang setara dengan catur. Inilah tantangan terberat bagi Andrian: melatih atlet yang memiliki keterbatasan fisik sekaligus intelektual.
Di lapangan Boccia, garis antara pelatih dan orang tua seringkali kabur. Andrian harus mengecilkan ego dan melipatgandakan kesabaran. Banyak atletnya yang tidak mengenyam pendidikan formal, membuat Andrian harus memutar otak untuk menyederhanakan materi strategi yang rumit.
“Saya harus ekstra sabar. Melatih Boccia itu tidak cukup hanya di lapangan,” ujarnya.
Perannya meluas drastis. Saat latihan usai, Andrian melepas peluitnya dan berganti peran menjadi pendamping personal. Ia tak segan menyuapi atletnya, menggendong mereka ke toilet, hingga memastikan mereka tidur dengan nyaman di atas kasur. Satu atlet, satu pendamping—sebuah dedikasi total yang jarang ditemukan di cabang olahraga lain.
Tantangan mental justru sering datang dari luar lapangan, yakni meyakinkan para orang tua. "Banyak atlet yang terbiasa bergantung total pada keluarga. Kami harus meyakinkan orang tua bahwa di sini, anak-anak mereka belajar mandiri. Ada pendidikan karakter di setiap sesi latihan," tambahnya.
Kini, di bawah arahannya, tiga atlet kelas BC2—Yuda, Bintang, dan Giska—terus ditempa. Setiap hari, mereka melakukan drill lemparan jarak pendek hingga jauh, memperkuat power, dan mengasah taktik servis.
Andrian selalu mengingatkan mereka bahwa Boccia yang awalnya hanya sebuah terapi medis, kini telah bertransformasi menjadi panggung prestasi dunia. Baginya, melihat atletnya berdiri (atau duduk dengan bangga) di podium adalah bayaran yang tak ternilai.
“Bagi saya, tantangannya adalah membuktikan bahwa dengan kondisi cerebral palsy, mereka tetap bisa mengharumkan nama bangsa. Mereka bukan orang sakit yang sedang terapi, mereka adalah atlet yang sedang bertarung demi harga diri,” ujar Andrian mantap. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno