RADARSOLO.COM — Ambisi Solo untuk kembali menjadi panggung event internasional kian nyata. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kini tengah meyakinkan ASEAN Para Sports Federation (APSF) agar menunjuk Kota Bengawan sebagai tuan rumah pemilihan dan pelantikan pengurus federasi olahraga disabilitas se-ASEAN.
Upaya tersebut menguat setelah komunikasi intens antara Pemkot Solo dan APSF yang berlangsung pada Rabu (8/4). Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyatakan optimisme tinggi bahwa Solo mampu mengamankan agenda strategis tersebut.
Baca Juga: Hasil Banding Persis Solo: Larangan Tanding Dikurangi Jadi 2 Laga, Denda Malah Naik Tiga Kali Lipat
“Kami sedang meyakinkan Sekjen APSF bahwa pada Juni nanti Solo siap menjadi tuan rumah pemilihan Ketua APSF. Kesiapan kota sudah kami pastikan,” tegasnya, Kamis (9/4).
Kepercayaan diri itu bukan tanpa alasan. Solo memiliki rekam jejak sebagai tuan rumah event internasional, mulai dari ASEAN Para Games 2022 hingga PEPARNAS XVII 2024. Pengalaman tersebut menjadi modal kuat untuk kembali dipercaya di level regional.
Respati menilai, keberhasilan event sebelumnya membuktikan bahwa Solo bukan hanya mampu secara teknis, tetapi juga siap dari sisi fasilitas yang inklusif bagi atlet disabilitas.
“Ini akan menambah capaian Solo. Harapannya Indonesia, khususnya Solo, kembali dipercaya menjadi tuan rumah,” ujarnya.
Sinyal positif juga datang dari internal APSF dan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Dalam kunjungan Sekjen APSF, Wandee Tosuwan, ke Balai Kota Solo, sejumlah fasilitas dan kesiapan kota menjadi bahan penilaian utama.
Baca Juga: Persiwi Wonogiri Minta Dukungan Pemkab, Target Bangkitkan Kejayaan Era 90-an
Wakil Sekjen NPCI, Rima Ferdianto, mengungkapkan bahwa mayoritas negara ASEAN cenderung memilih Solo karena rekam jejaknya.
“Banyak peserta ASEAN memilih Solo karena sudah terbukti sukses menggelar event internasional. Mereka percaya Solo tempat terbaik,” jelasnya.
Selain pengalaman, ketersediaan venue berstandar internasional yang ramah disabilitas juga menjadi nilai jual utama. Hal ini memperkuat posisi Solo sebagai kota inklusif sekaligus destinasi sport tourism di kawasan ASEAN.
Jika berhasil, agenda ini tak hanya mengukuhkan posisi Solo di peta olahraga internasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari sektor pariwisata dan industri event.
Kini, bola ada di tangan APSF—apakah Solo kembali dipercaya menjadi tuan rumah, atau harus bersaing dengan kota lain di kawasan Asia Tenggara. (ves)
Editor : Kabun Triyatno