Mereka tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 Sragen. Aksi demo digelar di depan pintu gerbang pabrik di Desa Purwosuman, Kecamatan Sidoharjo, Senin (14/6). Permasalahan yang mengganjal para buruh adalah pengusaha meliburkan mereka sejak hari raya Idul Fitri hingga saat ini. Tanpa ada kepastian untuk kembali bekerja. Karena libur itulah para buruh tidak mendapat upah dari pabrik.
Ketua DPC SBSI 1992 Sragen Joko Supriyanto mengatakan, sejumlah buruh terpaksa mendatangi pabrik untuk meminta kejelasan nasib. Karena para buruh saat ini sudah menganggur hampir satu bulan.
”Kami cuma mempertanyakan teman-teman masuk kerja lagi kapan, karena ketentuan untuk liburnya sudah habis kemarin. Seharusnya hari ini sudah masuk kerja lagi, makanya teman-teman ini menanyakan nasib mereka,” terang Joko, Senin (14/6).
Selain itu, 150 buruh diliburkan tanpa ada alasan yang jelas. Mereka berasal dari pabrik yang berbeda.
”Ini ada teman-teman yang dari tenun textile pengolahan benang ke kain. Terus ada pula pabrik makroni. Tapi paling banyak teman-teman yang dari pabrik tenun atau textile ini,” bebernya.
Sementara ketua serikat pekerja, Giman menyampaikan, buruh hanya menuntut hak-hak mereka. Jika memang pabrik akan ditutup atau diliburkan, harus memenuhi hak pekerja.
”Kalau memang pabrik mau ditutup atau diliburkan, kami hanya menuntut hak kita sebagai buruh sesuai undang-undang aturan yang berlaku. Soalnya ini THR aja dicicil. Ini baru cicilan pertama dibayar 10 persen. Dan kami menuntut hak-hak kita,” imbuhnya.
Salah seorang buruh, Katik, 41, mengatakan, pihaknya sudah bekerja sejak tiga tahun. Tetapi paling bermasalah dengan perusahaan pada tahun ini.
”Liburnya ini ditambah lagi, ini saya sudah nganggur 1 bulan lebih dan ini saja untuk THR kemarin dicicil 10 persen selama tujuh kali, awalnya 30 persen. Kami minta kejelasan, soalnya selama diliburkan ini di rumah tidak ada pekerjaan,” ujarnya. (din/adi/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra