Salah seorang pedagang Singkong Keju, Anis Nila Mayasari mengatakan, sejauh ini belum ada pemberitahuan tentang kapan Nimas akan dibuka kembali. Kondisi tak menentu ini membuat para pedagang menjadi khawatir. Karena berjualan di Nimas ini merupakan sumber penghasilan pedagang. Salah satunya beban yang dirasakan yakni beban hutang dari bank yang wajib setor setiap bulan.
”Kami disuruh tidak berjualan tapi cicilan di bank tetap jalan terus. Lalu bisa dapat uangnya dari mana jika Night Marketnya belum dibuka otomatis penghasilan menjadi berkurang,” keluhnya, Rabu (8/9).
Dia tidak memungkiri sebagian pedagang tidak hanya berjualan di Nimas. Tetapi jika salah satu sumber penghasilan dihentikan, otomatis menjadi kesulitan untuk membayar cicilan.
Anis menambahkan biaya sewa stand di night market sendiri biayanya cukup mahal. Bayar Rp 3 juta diawal kemudian mendapatkan tenda. Menunggu satu tahun baru menjadi hak milik. Setiap jualan masih harus membayar lagi untuk membayar listrik Rp 10.000.
”Semakin sedih kalau buka tapi sepi pengunjung,” tuturnya.
Anis berharap agar Nimas ini bisa segera dibuka. Karena merupakan mata pencaharian bagi para pedagang. Lagipula para pengunjung jajan juga langsung dibawa pulang dan tidak makan di tempat.
Terpisah, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati memutuskan, belum akan membuka kembali. Pihaknya menjanjikan jika wilayah Sragen sudah turun di PPKM level 2, akan kembali digelar.
”Sesegera mungkin, ketika kita sudah PPKM level 2,” terangnya.
Pihaknya juga menegaskan melalui Instrusksi Bupati (Inbup) selama masih dalam PPKM Level 3 seperti saat ini, kegiatan Night Market Sukowati tetap ditutup. (mg4/din/adi/dam) Editor : Damianus Bram