Dahulu, Desa Sumberejo dikenal sebagai sentra tanaman tembakau. Bahkan pada 2017 silam, mampu menyuplai 60 persen produksi tembakau kering di kabupaten tersebut. Ini setelah pemerintah desa (pemdes) setempat menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan penyuplai tembakau.
Tembakau tumbuh subur di atas lahan seluas 30 hektare. Namun, seiring berjalannya waktu, kemitraan dengan perusahaan tersebut putus. Perlahan, luasan lahan tembakau berkurang. Bahkan tahun ini, hanya sekitar 2 hektare saja yang tersisa.
“Kondisi cuaca yang sering hujan lebat membuat petani tembakau sering gagal panen. Padahal, dulu tembakau sangat diandalkan untuk mendukung perekonomian warga Desa Sumberejo,” terang Kepala Desa (Kades) Sumberejo Sentot Nugroho.
Setelah tembakau tiarap, tinggal tanaman palawija saja yang masih dipertahankan. Petani Desa Sumberejo mulai beralih menanam jagung. Potensi inilah yang coba digali pemdes setempat. Lalu, dibentuk kelompok usaha bersama (KUB). Anggotanya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang olahan jagung.
“Semua di bawah komando badan usaha milik desa (BUMDes). Kami undang narasumber dari salah satu universitas di Solo. Kemudian, rencananya produk UMKM warga Sumberejo bisa dipasarkan lewar e-commerce atau pemasaran online. Dari pihak universitas juga mau membantu aplikasi yang dibutuhkan secara gratis,” imbuh Sentot.
Sejatinya, ada berbagai olahan jagung yang dihasilkan UMKM di Desa Sumberejo. Mulai dari marning, keripik, dan sebagainya. Namun, paling spesial dan mulai dikenal masyarakat luas, yakni nasi jagung instan.
“Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati sering tanyakan produk nasi jagung instan, tiap kali berkunjung ke Kecamatan Mondokan. Nasi jagung ini sudah saya ajukan pelatihan dari salah satu universitas di Solo terkait kewirausahaan. Alhamdulillah disetujui dan sudah dibuatkan desain kemasan dan pemasarannya,” ungkap Sentot.
Tak dimungkiri, sebelum ada pendampingan, pemasaran produk nasi jagung instan masih terbatas. Selain itu, kemasannya ala kadarnya. “Dulu baru dijual di pasar tradisional saja dengan bungkus plastik biasa. Sekarang produksinya sudah dikirim sampai luar Jawa. Bahkan sudah bisa masuk ke toko-toko online. Kemasannya pakai aluminium foil agar lebih menarik,” ujarnya.
Sentot menambahkan, penyajian nasi jagung instan ini cukup sederhana. Cara memasak bahkan dicantumkan dalam kemasan. Tinggal ditanak seperti kita memasak beras.
Apakah produk nasi jagung instan ini goyang ketika pandemi Covid-19? Sentot mantab menjawab tidak. Justru selama pandemi, permintaan meningkat.
“Produk nasi jagung instant ini sebenarnya dikembangkan UMKM perorangan. Dikelola ketua KUB. Sekarang bisa ditularkan kepada warga yang lain. Jadi, produk nasi jagung instant ini setiap ada pameran kuliner, selalu jadi andalan Desa Sumberejo,” urai Sentot.
Pemasaran produk UMKM di Desa Sumberejo juga terbantu program wifi gratis dari pemdes setempat. Total lima titik hotspot tersebar di sana. “Sebenarnya kami ingin menambah jaringan. Namun karena ada pandemi Covid-19, sementara belum bisa,” katanya.
Sementara itu, Pemdes Sumberejo ingin menggali potensi lain yang bisa menambah pendapatan asli desa (PADes). Salah satunya pembangunan sentra kuliner di atas lahan seluas 0,5 hektare. Serta mengembangkan kebun buah di atas lahan kas desa.
“Sentra kuliner belum dulu. Karena anggaran kena refocusing untuk penanganan Covid-19. Kalau kebun buah, saat ini baru proses pembuatan lubang tanam. Kami siapkan lahan sekitar 1 haktare,” jelasnya. (din/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria