Ketekunan Sumarni dalam dunia jahit menjahit di lingkungan tempat tinggalnya membuahkan hasil. Sampai-sampai pakaian jahitannya diminati sampai oleh customer dari Hongkong dan Taiwan. Selain keberuntungan, hal tersebut tidak lepas dari komitmennya untuk menjaga bahan kain dan kreativitas membuat desain.
Lantas karena hasil karyanya dinilai baik, rejeki tak disangka pun menghampirinya. Padahal pada saat sedang dilanda pandemi Covid-19 sekitar pertengahan 2020, tiba-tiba dia mendapat tawaran mengerjakan cukup banyak baju gamis. Pesanan itu diminta untuk dikirim ke Hongkong.
”Alhamdulillah bisa kirim sampai ke Hongkong pada saat pandemi. Pesanan dari buruh migran yang ada disana,” terangnya.
Sumarni menyampaikan pesanan tersebut didapat dari salah seorang anak pelanggannya. Pesanan itu muncul lantaran pihak pemesan membuat kelompok pengajian di luar negeri. Kemudian oleh pelanggannya, jasa buatannya direkomendasikan.
”Pesanan untuk beberapa potong pakaian grup pengajian. Alhamdulillah saya sanggup. Akhirnya saya buatkan,” ujarnya.
Tak dinyana, produk jahitannya cukup diminati. Hingga akhirnya sebulan yang lalu, atas rekomendasi dari Buruh Migran, dirinya mendapatkan pesanan dari Taiwan. ”Bulan lalu ada order dari Taiwan. Sekarang ini juga ada order dari Taiwan menyusul,” ujarnya.
Lantas dalam pengiriman produknya, dia hanya mengambil ongkos jahit dan harga bahan kain. Sedangkan biaya ongkos kirim dibebankan pada pemesan. Dia bersyukur sampai saat ini tidak ada komplain terkait produknya.
Sumarni mengisahkan awalnya dia mengikuti kursus menjahit ketika sudah memasuki usia diatas 30 tahun. Pada saat itu dia mengandung anak ketiga. Situasi tersebut menuntutnya berpikir keras untuk menambah penghasilan keluarga.
Hingga akhirnya temannya mengajak untuk mengikuti kursus menjahit. Lantas selama bertahun-tahun mengembangkan usahanya, dia pelan-pelan bisa membangun kepercayaan konsumen sebagai penjahit rumahan. Dia hanya melayani berdasarkan pesanan. Biasanya untuk seragam hajatan, dan sebagainya. Kalau dekat Lebaran ini juga ada pesanan.
”Usaha fashion saya berdasarkan pesanan saja untuk melayani jahitan. Kalau saat ini mulai banyak yang pesan. Seperti baju koko, gamis, dan kebaya,” terangnya.
Meski sudah menginjak usia kepala lima, semangatnya untuk mengembangkan usaha fashionnya. Dia bercita-cita kedepan bisa memiliki butik sendiri. Namun hal tersebut masih terkendala modal. (din/nik) Editor : Damianus Bram