Kepala SMP Negeri 1 Sragen Wiyono menyampaikan, pemilos ini merupakan program dari kesiswaan. Sosialisasi sudah disampaikan jauh-jauh hari. Kemudian dilakukan penjaringan kandidat. Mulai dari tes wawancara, tes tertulis, dan sebagainya.
Hingga akhirnya memunculkan tiga kandidat sebagai calon ketua OSIS. Setelah itu mereka diberi kesempatan untuk kampanye, memasang foto, dan gambar. Dilanjutkan penyampaikan visi misi di hadapan seluruh siswa, Senin (15/8) lalu. Selain itu mereka juga menjawab pertanyaan dari perwakilan pemilih.
”Pemilih kurang lebih 670 siswa, baik kelas VII, VIII dan IX. Guru pun punya hak pilih. Layaknya pemilu, pemilih juga wajib membawa undangan. Setelah menyalurkan hak suaranya mencelupkan jari ke tinta,” ujarnya.
Turut hadir anggota KPU Sragen. Serta meminjam kotak dan bilik suara untuk lebih mengenalkan demokrasi. Setidaknya ada 15 kotak suara untuk memperlancar proses pemilos. Lantas para siswa juga mendapat arahan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen.
”Jadi kami diapresiasi, sekolah yang melaksanakan pemilos sesuai dengan alur yang ada,” kata Wiyono.
Anggota Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumberdaya Manusia KPU Sragen Suwarsono menyampaikan, pendidikan demokrasi merupakan tugas KPU untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Meski para siswa ini masih SMP, namun untuk Kurikulum Merdeka Belajar di beberapa sekolah sudah menerapkan pembelajaran kader Pancasila.
”Kami coba suport untuk mengikuti proses demokrasi Pancasila yang diimplementasikan dalam pilihan pengurus OSIS di SMP Negeri 1 Sragen,” ujar dia.
Suwarsono menambahkan, kedepan diharapkan semakin banyak anak-anak mengambil peran-peran politik yang sederhana di sekolah. Sehingga di kemudian hari mengambil peran dalam pesta demokrasi.
”Bisa jadi mereka ketika dewasa mengambil peran politik dan menjadi anggota dewan, bupati, komisioner KPU dan sebagainya,” ujarnya. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram