Penuturan dari mulut ke mulut, pada massa penjajahan Belanda, kawasan setempat merupakan perkebunan tebu yang sangat luas. Nah, air dari belik tersebut digunakan untuk kebutuhan para petani dan pekerja perkebunan tebu yang bekerja jauh dari permukiman.
Mereka membuat gubuk untuk sekedar berteduh dan melepas lelah di dekat belik. Seiring berjalannya waktu, gubuk tersebut berkembang menjadi perkampungan kecil. Hingga saat ini diberinama kampung atau Dusun Bulakrejo karena posisinya berada di bulak atau lahan yang luas.
Belik tersebut dipercaya memiliki penjaga tak kasat mata, yakni seekor belut raksasa berkepala putih. Subur, salah seorang tetua kampung setempat menuturkan, belik tersebut diberi nama Mbah Belik ada juga yang menyebut Mbah Putih.
”Dinamakan Mbah putih karena danyang (penunggu)-nya berupa belut berkepala putih. Belut itu kadang kala bisa berubah menjadi ular. Makanya dinamakan Mbah Putih,” ujarnya.
Ada pula makhluk tak kasat mata lainnya yang biasa disebut Maman. Namun Subur enggan menjelaskan terkait wujud Maman. Dia hanya mengatakan bahwa Maman merupakan cucu Mbah Putih adalah semacam makhluk astral.
”Ini mata airnya sudah tidak ada, karena warga sekitar juga sudah buat sumur di rumahnya masing-masing. Sekarang jadi punden yang dipundi-pundi,” kata Subur.
Tradisi nyadran di belik digelar setiap tahun sekali. Kegiatan tersebut disebut Subur sebagai bentuk rasa syukur. ”Jadi nyadran ini komplet, ada tumpengan dan sebagainya. Diharapkan rasa syukur ini rezeki melimpah. Kalau untuk tabur bunga di pohon ini hanya penghormatan,” terangnya.
Kepala Desa (Kades) Tangkil Suyono menuturkan, bersih desa atau nyadran sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang melimpah. ”Selain itu, warga juga melanjutkan tradisi orang tua dulu,” ucapnya.
Suyono mengamini banyak mitos terkait belik yang saat ini airnya sudah tidak digunakan lagi. Soal kepercayaan, kades menyerahkan kepada pribadi masing-masing. (din/wa) Editor : Damianus Bram