RADARSOLO.COM - Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen ditunjuk sebagai desa wisata batik sejak 2019. Bersamaan dengan momentum Hari Batik Nasional, pemerintah desa (pemdes) setempat ingin mengangkat batik Kliwonan supaya lebih dikenal masyarakat luas.
Sejak ditetapkan sebagai desa wisata batik sesuai surat keputusan (SK) bupati Sragen, Desa Kliwonan sempat menghadapi sejumlah kendala. Termasuk minimnya inovasi dalam pengembangan desa wisata. Apalagi pada 2020 dilanda pandemi Covid-19.
Nah, momentum Hari Batik Nasional awal Oktober ini, memantik semangat Pemdes Kliwonan untuk mengembangkan batik setempat. Salah satunya melalui karnaval keliling kampung. Ratusan warga dilibatkan, dengan mengenakan busana batik.
“Berbagai kreasi dan desain batik dari warga kami libatkan dalam karnaval keliling kampung. Selain itu, berbagai model kostum berbahan dasar batik juga ditonjolkan,” kata Kepala Desa (Kades) Kliwonan Aswanda.
Tak hanya orang dewasa dan pemuda, anak-anak juga dilibatkan dalam karnaval. Tak pelak, kegiatan ini mendapat atensi besar dari masyarakat. Terutama di sepanjang rute yang dilintasi.
“Ini pertama kali diadakan oleh Pemdes Kliwonan. Semoga setelah resmi diakui sebagai desa wisata batik, bisa mengangkat perkonomian warga pascapandemi Covid-19,” imbuh Aswanda.
Di Desa Kliwonan terdapat lebih dari 27 perajin batik. Plus 37 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta industri rumahan batik. Pengembangan desa wisata batik Kliwonan dinilai sudah berada di jalur yang tepat.
Saat ini, pemdes didorong untuk lebih mengenalkan batik Kliwonan. Memanfaatkan area yang ada di lapangan Kliwonan. Berupa pembuatan showroom Girwah (pinggir sawah).
“Kebetulan lokasinya di tepian areal persawahan. Saat ini sudah kami buatkan masterplan Girwah,” papar pendamping Desa Kliwonan Eko Mulyono.
Selain itu, pemdes setempat juga memberikan dukungan penuh dalam pengembangan batik. Terutama dari sisi pendanaan. Digelontorkan dana desa (DD) untuk berbagai kegiatan. Salah satunya festival batik.
“Festival batik di Kliwonan untuk menggugah semangat perajin, sekaligus meningkatkan perekonomian warga. BUMDes (badan usaha milik desa) juga didorong untuk aktif menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” beber Eko.
Sementara itu, Camat Masaran Suratman mengapresiasi upaya pengembangan batik Kliwonan.
“Kami sangat mendukung festival dan karnaval batik di Desa Kliwonan. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan di Desa Kliwonan,” katanya. (din/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria