RADARSOLO.COM - Sektor pertanian tidak bisa dipisahkan dari kawasan pedesaan di Kabupaten Sragen. Termasuk Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung. Potensi pertanian di kawasan ini cukup besar, salah satunya budi daya buah melon.
Melon yang dibudi daya di Desa Pengkok termasuk kualitas unggulan. Menariknya, budi daya di sana menerapkan sistem greenhouse. Total ada empat greenhouse untuk budi daya melon.
Menariknya, pengembangan teknologi pertanian yang satu ini didukung penuh oleh pemerintah desa (pemdes) setempat. Bahkan bisa menjadi percontohan bagi para petani setempat.
Sekretaris Desa Pengkok Sigit Pambudi menjelaskan, usaha agribisnis dengan sistem greenhouse sangat potensial dikembangkan di wilayahnya. Meskipun mayoritas warga Desa Pengkok lebih memilih hidup di perantauan.
“Greenhouse masih bisa berkembang. Tapi masalahnya, warga Desa Pengkok banyak yang merantau. Di Pengkok ada 11 ribu jiwa, yang 60 persen sudah berusia 50-60 tahun. Para pemuda usia produktif banyak yang merantau,” jelas Sigit.
Sigit menambahkan, sektor pertanian di Desa Pengkok didominasi komoditas padi. Sisanya bawang merah, sayuran, cabai, dan rumput gajah untuk pakan ternak.
“Mayoritas masih padi. Tapi ada bawang, melon dan sebagainya. Lahan yang dekat sungai dipakai untuk menanam rumput gajah,” bebernya.
Terkait budi daya melon, Menurut Sigit sangat potensial untuk dikembangkan. Karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu besar. Bahkan bisa memanfaatkan lahan tidur.
“Budi daya melon ini cocok untuk warga Desa Pengkok, terutama yang lanjut usia (lansia). Hanya saja, modal awalnya cukup besar,” ujar Sigit.
Sementara itu, pengusaha agribisnis dan budi daya melon di Desa Pengkok Aan Cahyanto mengaku, saat ini getol memberikan percontohan sistem greenhouse. Dia mengaku sudah memiliki empat lahan greenhouse.
“Melon yang saya budi daya kualitas premium. Estimasi harga per kilogram (kg) sekira Rp 25.000-Rp 30.000 dari petani. Bahkan jika sampai konsumen, harganya bisa Rp 40.000 per kg,” papar Aan.
Dalam setahun, Aan bisa 4-5 kali panen. Edukasi pertanian ini bukti dari upaya pemberdayaan. Bahkan sebagian hasil panen melon, digunakan untuk pemberdayaan warga sekitar.
“Saya bikin ini sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Supaya bisa mengembangkan potensi di daerah masing-masing. Cukup memanfaatkan lahan kosong untuk budi daya melon,” jelasnya.
Di sisi lain, Aan sangat mengapresiasi keberadaan para petani milenial. Terutama yang bersedia untuk terus belajar.
“Petani yang butuh perputaran (uang) cepat, tidak bisa agrowisata. Tidak efektif. Ini contoh. Saya optimistis banyak yang tertarik mengikuti ketika hasilnya bisa dirasakan,” ujarnya. (din/fer)
Editor : Damianus Bram