RADARSOLO.COM – Kehangatan silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah Kabupaten Sragen terasa pada Sabtu (3/4/2025). Di tengah acara, sosok istimewa hadir yakni Abdul Mu’ti yang kini jadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Bagi Mu’ti, hadir ke Sragen bukan sekadar menyapa warga Muhammadiyah. Namun jadi panggung nostalgia, tempat di mana api semangatnya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah pernah berkobar.
”Saya merasa sangat bahagia akhirnya dapat kembali ke Sragen. Di sini akan selalu jadi tempat yang istimewa dan memiliki nilai historis tersendiri bagi saya. Sukowati selalu di hati,” ujarnya.
Pihaknya juga mendengarkan permintaan bupati Sragen. Terutama soal anggaran pendidikan yang memungkinkan dialokasikan di Sragen.
”Kalau beliau tidak minta pun saya paham maksudnya, bantu pemerintah maksudnya bantu ngentekne anggaran. Insyaallah ada pak bupati, apakah nanti smart classroom atau renov. Sebagian saya taruh di kabupaten Sragen ini,” bebernya.
Mu’ti juga membawa pesan penting yakni persatuan dan kerukunan. Di tengah dinamika zaman, dia mengingatkan kekuatan umat dan bangsa terletak pada kemampuan untuk merajut kebersamaan.
”Forum silaturahim ini sangat penting. Kekuatan kami sebagai umat, kekuatan kita sebagai bangsa itu ditentukan oleh persatuan dan kerukunan yang kita bina secara bersama-sama,” jelasnya.
Sementara Bupati Sragen Sigit Pamungkas menjelaskan, tidak minta menteri yang berkunjung.
”Biasanya kalau ada menteri datang, bupatinya minta sesuatu. Kami tidak minta pak menteri, justru di Sragen ini banyak kemajuan. Rata-rata lebih tinggi dibanding provinsi dan nasional. Untuk pendidikan baik,” terangnya.
Sigit juga memamerkan bahwa Sragen berdiri sekolah-sekolah yang tidak biasa saja. Sekolah di Sragen dengan biaya tinggi sudah biasa.
”Maka saya tidak minta pada pak menteri, tapi kalau diberi tidak apa-apa,” gurau Sigit.
Lantas dia menyampaikan Sragen juga banyak inovasi. Penghimpunan Lazismu juga terbesar di Tingkat nasional. Demikian juga masjid yang dikelola Muhammadiyah juga masuk jadi rujukan nasional. (din/adi)
Editor : Adi Pras