RADARSOLO.COM – Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sragen menyambut baik dimulainya tahun ajaran baru dengan penjualan seragam sekolah yang kembali bergairah.
Di tengah optimisme tersebut, mereka secara bulat mendukung usulan anggota DPRD Sragen untuk membebaskan paten motif batik Ceplok Pidekso untuk seragam sekolah di Sragen.
Usulan itu membuka peluang lebih luas bagi UMKM dan memberikan pilihan harga yang lebih kompetitif bagi konsumen. Pedagang juga berkesempatan mendapatkan keuntungan.
Osama Vanya, salah satu pedagang seragam dan perlengkapan sekolah di Pasar Kota Sragen mengungkapkan, penjualan saat ini cukup menggembirakan, terutama untuk jenjang SD dan SMA.
”Penjualan cukup baik, terutama untuk tingkat SD dan SMA,” ujar Osama.
Namun, ada satu catatan menarik terkait penjualan seragam untuk jenjang SMP yang cenderung lesu.
”SMP jarang banget, kabarnya beli dari sekolah,” imbuh Osama.
Situasi itu mengindikasikan adanya dugaan praktik penjualan seragam langsung oleh pihak sekolah yang membatasi ruang gerak pedagang UMKM.
Terkait seragam batik, selama ini paten desain atau motif menjadi wewenang BUMD Kabupaten Sragen, PT. Gentrade. Situasi ini kerap membuat harga seragam batik melambung tinggi di pasaran.
Pihaknya juga menyoroti perbedaan harga yang signifikan antara penjualan oleh BUMD dengan potensi harga yang ditawarkan UMKM.
”Saya jelas setuju (paten dibebaskan, red). Kalau beli di pusat batik Sukowati itu harga mahal. Tapi kalau kami UMKM yang jual harganya bisa bersaing dan lebih terjangkau,” tegas Osama.
Pengelola toko Almasa ini juga mengaku sempat mengikuti pemberitaan terkait mahalnya harga setelan seragam batik yang beredar di masyarakat.
Saat ini, para pedagang UMKM membeli kain batik dari Batik Sukowati dan kemudian menjahitnya sendiri.
Namun, keraguan akan potensi perubahan desain seragam batik membuat mereka memilih untuk tidak menambah stok terlebih dahulu.
”Tahun ini seragam batik habiskan stok dulu,” jelas Osama. (din/adi)
Editor : Adi Pras