Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Gebrakan Satu Abad NU Sragen: Bangun Sragen Mart Rp 3 Miliar dari Saham Warga Nahdliyin

Ahmad Khairudin • Minggu, 1 Februari 2026 | 13:23 WIB
Puncak resepsi peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di GOR Diponegoro Sragen.
Puncak resepsi peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di GOR Diponegoro Sragen.

RADARSOLO.COM-Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sukowati menjadi momentum krusial bagi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen untuk melakukan "Kebangkitan Kedua".

Tak sekadar seremoni yang menghijaukan kabupaten dengan ribuan atribut, momentum 100 tahun ini menjadi titik tolak penguatan ideologi kader dan kemandirian ekonomi riil melalui peluncuran Sragen Mart.

​Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen Sriyanto menegaskan, soliditas organisasi telah teruji melalui konsolidasi masif hingga tingkat ranting.

Namun, ia menyadari tantangan masa depan menuntut langkah yang lebih konkret.

​"Ini adalah momentum kebangkitan. Fokus kami kini bergeser pada penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang dan langkah nyata di sektor ekonomi melalui Sragen Mart," ujar Sriyanto dengan optimis di sela puncak resepsi di GOR Diponegoro Sragen.

​Gebrakan paling nyata dari PCNU Sragen adalah pembangunan Sragen Mart, sebuah proyek minimarket yang menjadi embrio kemandirian finansial organisasi.

Uniknya, modal usaha ini tidak bergantung pada pemodal besar, melainkan hasil kolektif warga Nahdliyin.

Dari total kebutuhan Rp 3 miliar, saat ini telah terkumpul Rp 2,83 miliar melalui sistem saham seharga Rp 250 ribu per lembar yang diserap warga dari tingkat desa.

Lantas Sragen Mart mengalokasikan 30 persen ruang rak khusus untuk produk UMKM milik warga lokal melalui pendampingan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU).

Minimarket ini diharapkan menjadi etalase sekaligus akses pasar bagi potensi ekonomi di tingkat bawah.

​Semangat gotong royong ini pun tampak pada tradisi tumpengan harlah, di mana panitia menerima hingga 1.134 tumpeng dari pengurus ranting, melampaui target awal sebanyak 1.000 tumpeng.

Baca Juga: Hilang Semalaman, Lansia di Jogonalan Klaten Ditemukan Tak Bernyawa Dasar Sumur

​Menutup rangkaian perayaan abad kedua ini, PCNU Sragen berharap sinergi dengan pemerintah daerah semakin kuat.

"Kami sangat berharap dukungan pemerintah, terutama untuk program pemberdayaan masyarakat yang tengah kami laksanakan agar kemandirian ini berjalan berkelanjutan," pungkas Sriyanto.

​Sejalan dengan visi kemandirian tersebut, Ketua DPP PKB sekaligus tokoh perempuan NU, Luluk Nur Hamidah, mengingatkan bahwa di usia 100 tahun, NU harus mampu melakukan lompatan besar.

Menurutnya, pengakuan dunia terhadap NU sebagai organisasi Islam terbesar harus dikonversi menjadi kualitas sumber daya yang diperhitungkan secara global.

​"Komitmen NU terhadap NKRI dan Pancasila sudah selesai, sudah harga mati. Sekarang, tantangannya adalah bagaimana mengorganisir basis massa yang besar ini agar kontribusinya nyata di sektor riil dan meja diplomasi," tegas Luluk.

Dia menyoroti tiga sektor krusial yang harus segera dikapitalisasi agar NU tidak tergilas disrupsi teknologi dan perubahan sosial.

Antara lain Kemandirian Ekonomi untuk Membangun finansial organisasi yang kuat agar tidak bergantung pada kekuatan politik.

Kemudian akselerasi Pendidikan agar terjadi Transformasi pesantren menjadi pusat pemberdayaan modern.​

Selanjutnya meningkatkan Keunggulan SDM dan menciptakan kader yang kompetitif di tengah perubahan geopolitik internasional. (din)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#LPNU #100 tahun #sragen #kemandirian #minimarket #pemberdayaan masyarakat #satu abad NU #sragen mart #perekonomian