Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal di Kalijambe Sragen, Hadiah PB IV usai Tersesat di Hutan Krendowahono

Ahmad Khairudin • Jumat, 13 Maret 2026 | 19:15 WIB

Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal jadi saksi awal penyebaran islam di Kabupaten Sragen. Hingga kini masih berdiri dan ditetapkan jadi cagar budaya. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal jadi saksi awal penyebaran islam di Kabupaten Sragen. Hingga kini masih berdiri dan ditetapkan jadi cagar budaya. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Di balik rimbunnya pepohonan di pinggir jalan Solo sampai Kaliyoso, Desa Jetiskarangpung, Kecamatan Kalijambe, Sragen, berdiri sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang seakan membisikkan cerita masa lalu.

Dia adalah Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal, saksi bisu perjalanan dakwah di tanah Jawa. Jarak menuju masjid ini dari Alun-Alun Sragen sekitar 30 kilometer (km).

Masjid tersebut lebih dekat dari Solo sekitar 15 km. Kisah tentang masjid ini bermula pada 1790 Masehi.

Hutan Krendowahono yang saat itu dikenal lebat, angker, dan penuh misteri, menjadi latar sebuah drama kerajaan.

Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV, seorang raja yang dikenal memiliki kedalaman spiritual, terpisah dari rombongan pengawalnya saat tengah berburu kijang.

Dalam kepanikan istana, harapan tertumpu pada seorang pemuda alim bernama Bagus Turmudzi.

Bersama keponakannya, Bagus Murtoyo, ia menyusuri belantara. Dengan doa dan ketulusan, mereka berhasil menemukan Sang Raja dalam keadaan selamat. Pertemuan di tengah hutan itu menjadi titik balik sejarah.

Sebagai bentuk rasa syukur yang tak terhingga, PB IV tidak sekadar memberi ucapan terima kasih. Ia memberikan hadiah berupa Tanah Perdikan—sebuah otonomi wilayah yang bebas pajak—agar Bagus Turmudzi bisa fokus menyebarkan syiar Islam.

Langgar kecil tempat sang pemuda mengabdi pun disulap menjadi masjid agung yang megah pada masanya. Sang pemuda kemudian dikenal dengan gelar terhormat, Kiai Abdul Djalal.

Memasuki area masjid, waktu seolah melambat. Ketua takmir masjid, M. Rofchan, menunjuk ke arah tiang utama atau saka guru. Di sana, tersembunyi sebuah rahasia sejarah.

”PB IV tidak hanya memberi tanah, tapi juga pusaka berupa tombak dan trisula yang kini tersimpan di dalam saka guru ini,” tuturnya, Jumat (14/3/2026).

Meski sempat kehilangan salah satu pusakanya saat pemugaran besar pada 1950, masjid ini tetap menyimpan atmosfer museum hidup.

Beduk tua yang terbuat dari satu batang kayu utuh tanpa sambungan, mimbar asli yang masih kokoh, hingga pintu-pintu kuno, semuanya dibiarkan seperti sedia kala.

Sejak ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) pada 2015, struktur aslinya tetap terjaga rapat dari gerusan modernisasi. Dahulu, Kaliyoso adalah "titik nol" dakwah yang menantang.

Kiai Abdul Djalal harus menempuh jalur sungai, membelah sunyinya hutan untuk merangkul masyarakat yang saat itu belum mengenal Islam.

Pelan namun pasti, masjid ini berubah menjadi pusat literasi dan detak nadi peradaban Islam di wilayah Sragen.

Kini, meski usia masjid telah melampaui dua abad, gema suaranya tak pernah redup. Ribuan orang datang untuk berziarah ke makam Kiai Abdul Djalal yang berada tepat di sisi barat masjid.

”Saat Ramadan tiba, Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal semakin rama kegiatan. Tadarusan Alquran tak henti sepanjang Ramadan ini,” bebernya.

Di serambi masjid, anak-anak belajar mengaji. Hal itu menjadi sebuah simbol bahwa tongkat estafet dakwah yang dimulai dari ketulusan seorang ulama 230 tahun lalu, akan terus berpindah tangan ke generasi mendatang. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#masjid jami' #sragen #syiar islam #sri susuhunan pakubuwono #alun-alun sragen #Kalijambe