RADARSOLO.COM – Di tengah hiruk-pikuk modernitas, di Kecamatan Sambungmacan, Sragen berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak sejarah Pangeran Diponegoro. Yakni Masjid Mujahidin.
Masjid ini bukan sekadar rumah ibadah biasa. Dengan dinding hijau pudar dan pilar-pilar kayu yang kokoh, Masjid Mujahidin menjadi saksi bisu perlawanan Pangeran Diponegoro yang masih bernapas hingga kini.
Berlokasi di Dusun Bulu, Desa Karanganyar, masjid berusia 197 tahun ini dibangun pada 1829 oleh Kiai Haji Mohammad Syafii, seorang ulama sekaligus pejuang yang setia mendampingi Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda.
Baca Juga: Perkuat Sinergi dengan Pemerintah, Kagama Sragen Targetkan Tambah Kuota Bantuan RTLH Tahun Depan
Di tengah gejolak perang, Kiai Syafii memilih jalur dakwah sekaligus perlawanan di tanah Sukowati ini.
Masuk ke dalam ruang utama masjid, aroma kayu jati tua langsung menyambut. Nuansa Mataram Islam begitu kental terasa.
Empat pilar utama atau saka guru menjulang gagah, tiga di antaranya masih merupakan kayu asli dari hampir dua abad lalu.
Pilar-pilar itu seolah menjadi tulang punggung yang tak hanya menopang atap, tetapi juga menopang ingatan kolektif sebuah perjuangan.
Baca Juga: Kunjungan Tertutup di Alas Krendowahono Gondangrejo, Menbud Fadli Zon Soroti Pelestarian Budaya
”Mimbar, bedug, pintu-pintu kayu, hingga jendela berukiran klasik ini kami jaga sebaik mungkin,” ujar Ketua Takmir Masjid Mujahidin Agus Anwar Rosyidi, Jumat (27/3/2026).
”Ini bukan hanya warisan bangunan, tapi juga warisan semangat. Setiap kali mimbar ini digunakan untuk khutbah Jumat, rasanya kami sedang melanjutkan apa yang dulu diperjuangkan Kyai Syafii,” imbuh Agus.
Salah satu yang paling memikat adalah mimbar khutbah bergaya klasik Mataram. Meski sudah dicat hijau agar tetap terawat, ukiran halus dan bentuk aslinya sengaja dipertahankan.
Baca Juga: Lewat Aplikasi Lapor Bupati, Warga Sragen Bisa Sampaikan Aspirasi dan Keluhan
Mimbar ini bukan hanya tempat berdiri seorang khatib, melainkan penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Di belakang mihrab, tersembunyi kompleks makam keluarga KH Mohammad Syafii. Makam ini menjadi magnet religi tersendiri.
Setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, peziarah dari berbagai daerah datang berbondong-bondong untuk berziarah sekaligus mengenang jasa sang ulama pejuang.
Tak jauh dari makam, sebuah bedug tua dari kulit sapi masih setia menggantung di teras masjid. Suaranya yang berat dan khas setiap kali dipukul menjadi pengingat bahwa di tempat ini, agama dan semangat perlawanan pernah berjalan beriringan.
Baca Juga: Pendaki Gunung Lawu Cedera, Tim SAR Gabungan Lakukan Evakuasi via Candi Ceto Karanganyar
Imam Sholat Rowatib Masjid Mujahidin H. Sjamnuri mengisahkan masjid ini bukan hanya pusat ibadah, tapi juga jantung kehidupan sosial warga sekitar.
”Bagi kami, masjid ini adalah bukti hidup bahwa perjuangan para leluhur tidak pernah padam. Meski usianya hampir dua abad, ruh perlawanan dan dakwah masih terasa kuat di sini,” katanya.
Di lahan seluas 750 meter persegi, Masjid Mujahidin terus berdiri anggun. Bukan hanya sebagai tempat sujud, tetapi juga sebagai monumen hidup yang mengingatkan generasi sekarang bahwa di tanah Sukowati yang subur ini, pernah tumbuh perlawanan yang tak kenal menyerah.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Pariwisata, Pemkab Karanganyar Siapkan Banyak Event Menarik
Di balik ketenangan dan kesederhanaannya, Masjid Mujahidin Sambungmacan menyimpan cerita besar, bagaimana dakwah dan perjuangan kemerdekaan pernah menyatu dalam satu di sebuah masjid kecil di tepian Sragen. (din/adi)
Editor : Adi Pras