RADARSOLO.COM — Ancaman banjir di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo mulai terasa nyata. Meski belum meluap, kenaikan debit air akibat hujan deras dan kiriman dari wilayah hulu seperti Solo dan Sukoharjo membuat status di Sragen naik menjadi siaga.
Sejak Selasa pagi (15/4), Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sragen (BPBD) resmi menempatkan personel dan peralatan di sejumlah titik rawan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi skenario terburuk jika debit terus meningkat.
Baca Juga: Kesaksian Warga Solo: Air Tiba-tiba Membesar, Banjir Susulan Buat Rumah Langsung Tergenang
Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, Triyono Putro, menegaskan bahwa kondisi saat ini masih dalam batas aman. Namun, pola kiriman air dari hulu membuat situasi bisa berubah cepat dalam hitungan jam.
“Pagi ini masih aman, tapi kami tidak mau kecolongan. Pergerakan air terus kami pantau secara real-time,” ujarnya.
BPBD telah memetakan wilayah yang berpotensi terdampak jika air terus naik. Sejumlah kecamatan yang masuk zona rawan antara lain Masaran, Sidoharjo, Plupuh, Tanon, Sragen Kota, Ngrampal, Tangen, hingga Jenar.
Baca Juga: Banjir Rendam 14 Desa di Sukoharjo, Ratusan Warga Diungsikan
Wilayah-wilayah ini selama ini dikenal sebagai langganan banjir luapan Bengawan Solo.
Tanda-tanda awal ancaman mulai terlihat di Desa Gawan, Kecamatan Tanon. Air dilaporkan sudah berada di bibir sungai dan menunjukkan tren peningkatan.
Kepala Desa Gawan, Sutrisna, menyebut kondisi air cukup mengkhawatirkan meski belum masuk ke permukiman.
Baca Juga: Sungai Wiroko Meluap, Jalur Vital Tirtomoyo–Nguntoronadi Lumpuh Diterjang Banjir
“Air sudah tinggi, tapi belum meluber ke sawah atau rumah. Kami minta warga tetap waspada,” ujarnya.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu air meluap. Setiap tanda kenaikan debit yang tidak wajar diminta segera dilaporkan agar evakuasi bisa dilakukan lebih cepat.
Baca Juga: Banjir Rendam Sukoharjo, Akses Jalan Cemani–Konimex Tak Bisa Dilalui
Langkah antisipasi dinilai krusial, mengingat karakter Bengawan Solo yang bisa meluap tiba-tiba akibat kiriman dari hulu.
Meski belum terjadi banjir, situasi saat ini ibarat “tenang sebelum puncak”. Debit yang terus merangkak naik menjadi sinyal bahwa ancaman bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal menunggu waktu.
Jika hujan di wilayah hulu tak mereda, Sragen bisa menjadi wilayah berikutnya yang terdampak luapan Bengawan Solo. (din)