RADARSOLO.COM – Suasana haru sekaligus optimis menyelimuti Lapas Kelas IIA Sragen, Senin (20/4/2026).
Tongkat estafet kepemimpinan resmi berpindah tangan kepada Giyono dalam prosesi serah terima jabatan (sertijab) yang dihadiri langsung oleh Kakanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Mardi Santoso.
Tak sekadar seremoni, momentum ini menjadi penegasan bahwa Lapas bukan lagi sekadar tempat kurungan, melainkan pusat kolaborasi dan produksi.
Baca Juga: DPRD Sragen Soroti Aset Mangkrak Pemkab, Usul Eks Rumdin Bupati Jadi Kafe
Mardi Santoso memberikan catatan khusus bagi Bumi Sukowati. Menurutnya, Sragen memiliki modal sosial yang kuat, yakni sinergitas antar-stakeholder yang berjalan sangat harmonis.
”Saya sangat mengapresiasi dukungan Bupati, Kapolres, Dandim, hingga Kajari di sini. Kuncinya adalah kolaborasi. Tidak ada persoalan yang tidak bisa kita atasi kalau kita jalan bareng-bareng,” ujar Mardi di sela acara.
Mardi juga menyoroti tantangan krusial seperti peredaran narkoba dan penerapan KUHP baru. Terkait narkoba, ia menegaskan pentingnya keterbukaan informasi dari kepolisian, BNN, hingga masyarakat.
Baca Juga: Wabup Karanganyar Murka, Banyak Pejabat Absen di Rapat Paripurna LKPJ 2025
"Kita ini bukan Superman. Superman saja mengalahkan Thanos itu bersama-sama. Termasuk peran media untuk mengontrol kami. Kalau saya salah, ingatkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kalapas Sragen yang baru, Giyono langsung tancap gas. Ia menegaskan bakal membawa Lapas Sragen sejalan dengan misi Asta Cita dan akselerasi program Menteri Hukum dan HAM. Fokus utamanya: ketahanan pangan, UMKM, dan ekonomi kreatif.
”Layanan publik tetap wajah utama, tapi program pembinaan harus naik kelas. Saya ingin mengimplementasikan apa yang menjadi prioritas pusat agar Lapas Sragen tidak ketinggalan kereta," tutur Giyono.
Baca Juga: Kampanye Hidup Bersih, Warga Gondang Sragen Gencarkan Program Jumpalitan: Ini Artinya
Salah satu program yang bakal digenjot adalah produksi barang ekspor karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Selama ini, Lapas Sragen dikenal melalui produk ekspor mainan hewan (anjing) yang merambah pasar mancanegara. Giyono melihat peluang besar untuk meningkatkan volume ekspor melalui skema kolaborasi antar-satker.
"Informasi yang saya terima, satu kontainer per bulan itu berat kalau hanya dari satu tempat. Maka kita kolaborasi dengan 15 satker lain secara berputar. Mana yang kuotanya siap, itu yang diberangkatkan," jelasnya.
kBaca Juga: Singgung Mitos Genderuwo, Ketua DPRD Jateng Ajak Warga Kwadungan Karanganyar Jaga Pohon Besar
Ditanya soal inovasi pembinaan, Giyono mengaku akan menggunakan rumus klasik namun ampuh.
"Prinsipnya kita ceklis dulu kondisi di dalam. Setelah itu kita terapkan ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi dari pengalaman-pengalaman sukses di tempat lain. Saya mohon dukungan semua pihak untuk memajukan Lapas Sragen," pungkasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras