RADARSOLO.COM – Trauma mendalam masih membekas di wajah Hafsah Aflaha dan Mikel Fahmi. Dua siswa sekaligus saksi hidup korban ambrolnya atap ruang kelas MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan, Sragen, Selasa (12/5/2026) pagi ungkap detik-detik mencekam yang mereka alami.
Dari balik bangsal IGD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, Hafsah mengaku duduk di barisan depan. Tidak ada tanda-tanda bangunan akan roboh.
Suara derit kayu maupun debu yang jatuh pun tak dia dengar. Semuanya terjadi dalam kedipan mata. Saat atap luruh, ia secara naluriah berusaha bangkit untuk menyelamatkan diri.
”Duduk di depan, tiba-tiba ada yang jatuh mengenai kepala. Saya mau lari, tapi malah terjatuh dan kepala terbentur lantai,” kenang Hafsah dengan suara lirih.
Menurut Hafsah, suasana kelas saat itu sangat tenang karena pelajaran Bahasa Inggris baru saja dimulai. Karena kecepatan kejadian, hampir tidak ada siswa yang sempat meloloskan diri keluar ruangan.
”Nggak ada yang bisa lari. Baru saja mau mulai pelajaran, atap langsung ambrol,” tambahnya.
Baca Juga: 177 ASN Pemkab Karanganyar Terima SK PNS, Ini Pesan Bupati
Nasib lebih memilukan dialami Mikel Fahmi. Siswa yang duduk di barisan belakang ini harus merasakan penderitaan luar biasa karena terjepit reruntuhan kayu selama sekitar 10 menit.
Kayu-kayu penyangga atap yang lapuk itu menghimpit kedua kakinya hingga ia tak mampu bergerak.
”Saya minta tolong. Posisi duduk di belakang, benar-benar tidak sempat lari. Kaki terjepit kayu lama sekali,” ujar Mikel.
Baca Juga: Dansatgas TMMD Kodim 0725 Sragen Talk Show di Radio Buana Asri, Beberkan Progres Program
Akibat himpitan material bangunan seberat ratusan kilogram tersebut, kedua kaki Mikel mengalami luka serius.
”Tadi kata petugas medis ada retak di kaki. Sekarang susah sekali digerakkan, rasanya sakit," tuturnya.
Saat ditemui, tim medis RSUD dr. Soehadi Prijonegoro terus melakukan observasi intensif terhadap kondisi saraf dan tulang para korban.
Trauma psikis juga menjadi perhatian serius, mengingat para korban masih tampak gelisah dan kerap terkejut jika mendengar suara keras. (din/adi)
Editor : Adi Pras