RADARSOLO.COM – Di balik sunyi dan tandusnya tanah Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, tertanam sebuah kisah perburuan harta karun yang sempat menggegerkan belasan tahun silam. Warga setempat menyebutnya Batu Mani Gajah.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika membelah jalanan menuju Dukuh Bonagung, RT 24, Desa Bonagung.
Akses menuju lokasi ini bukanlah perkara mudah. Aspal yang mengelupas di perbatasan Desa Bonagung dan Desa Gading ini berganti dengan batuan tajam, menyisakan jalur sempit yang menuntut konsentrasi penuh.
Di kanan-kiri, lanskap berubah menjadi deretan lereng tandus yang gersang. Daerah ini didominasi oleh sawah tadah hujan yang meranggas saat kemarau, serta hamparan kebun jati yang merangking kering. Lokasi ini sempat viral ketika demam batu akik beberapa tahun lalu.
Parmi, warga setempat menjadi saksi hidup sekaligus pelaku sejarah masa-masa keemasan berburu batu magis tersebut.
Sambil membenahi aktivitasnya, ingatan Parmi langsung melayang ke masa 15 tahun lalu, saat kampungnya mendadak riuh oleh para pemburu batu.
Baca Juga: Tradisi 1 Suro di Gunung Lawu Diprediksi Membludak, Dua Jalur Pendakian di Karanganyar Diawasi Ketat
”Dulu satu batu itu harganya macam-macam. Ada yang Rp 300 ribu, Rp 500 ribu, bahkan kalau barangnya bagus dan besar bisa tembus lebih dari Rp 1 juta,” kenang Parmi, Jumat (6/6/2026).
Bagi warga lereng tandus yang mengandalkan sawah tadah hujan, nominal tersebut tentu menjadi angin segar yang luar biasa kala itu.
Bahkan, untuk batu sekepalan tangan yang kualitasnya biasa saja, uang Rp 100 ribu bisa dengan mudah masuk ke dompet.
Baca Juga: Disdikbud Sragen Jamin SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Lancar
Perburuan Mani Gajah di Bonagung memang unik. Lokasi pencariannya tidak berada di sungai besar atau gua-gua dalam, melainkan tersebar di lorong-lorong kebun jati yang berada di kiri jalan masuk perkebunan.
Di sana, warga harus jeli mengais tanah di antara tegakan pohon jati untuk menemukan batu yang memiliki ciri khas khusus ini.
”Bedanya dengan batu biasa, batu Mani Gajah itu ada 'bijinya'. Di dalamnya ada corak warna kuning-kuning yang khas,” jelas imbuh Parmi sembari menunjukkan guratan batu tersebut dengan tangannya.
Baca Juga: Daya Tampung SMP se Kabupaten Karanganyar di SPMB 2026 Sebanyak 13 Siswa
Konon, warna kuning itulah yang membuat batu ini diburu dan bernilai tinggi di mata para kolektor. Namun, roda waktu berputar.
Kejayaan Mani Gajah kini telah meredup. Lahan-lahan yang dulunya dipenuhi lubang galian para pemburu, kini telah diratakan kembali. Sebagian besar telah beralih fungsi menjadi petak-petak sawah.
”Sekarang sudah enggak ada yang cari. Kalau ada juga nggak banyak. Ya, kalau misal ada yang pesan, orang-orang lama yang tahu medannya mungkin masih bisa mencarikan, tapi kalau saya sendiri sudah berhenti,” tutur Parmi. (din/adi)
Editor : Adi Pras