Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Langes PG Mojo Sragen Dikeluhkan Warga, Manajemen Beberkan Penyebabnya

Ahmad Khairudin • Kamis, 2 Juli 2026 | 18:04 WIB

 

PG Mojo Sragen jadi satu-satunya pabrik gula di Solo Raya yang masih beroperasi. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
PG Mojo Sragen jadi satu-satunya pabrik gula di Solo Raya yang masih beroperasi. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Proses giling tebu Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen membawa dampak kurang sedap bagi warga sekitar.

Beberapa hari terakhir, jelaga hitam atau yang akrab disebut langes sisa pembuangan cerobong asap pabrik disinyalir beterbangan. Hal itu mengotori pemukiman warga di wilayah Kelurahan Sragen Kulon.

Rahmat Samsono, salah satu warga Sragen Kulon mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, sisa limbah padat berwarna hitam itu mengotori teras dan halaman rumah warga setiap hari sejak musim giling dimulai. Kondisi ini juga banyak dikeluhkan di media sosial.

Baca Juga: Disdikbud Sragen Bantah Tudingan Surat Kaleng, Jelaskan Permasalahan Pengisian Kepala Sekolah

”Sudah beberapa hari terakhir, tepatnya sejak waktu giling tebu dimulai,” ujarnya.

Dia berharap pihak manajemen segera melakukan perbaikan sistem pembuangan asap karena banyaknya warga yang terdampak polusi visual dan udara tersebut.

Menanggapi keluhan tersebut, manajemen PG Mojo tidak menampik adanya rembesan jelaga yang sampai ke pemukiman.

Baca Juga: Malam Keramat di Rumah Dinas, Bupati Karanganyar Mutasi 75 Pejabat Baru

Karyawan PG Mojo, Samuel Mahendra menjelaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan pembenahan parsial pada sistem mesin boiler pembuangan. Namun, merawat pabrik peninggalan era kolonial diakuinya bukan perkara mudah.

”Alatnya sudah tua dan kami harus rapikan, beberapa bagian sudahdiperbaiki. Tetapi itu tidak mudah,” ujar Samuel.

Ia menambahkan, urusan suku cadang mesin tua juga membutuhkan penyesuaian khusus.

Baca Juga: Bupati Sragen Dikirimi Surat Kaleng dari Bakal Calon Kepsek: Tuding Proses Seleksi Pilih-Pilih Orang Dekat

”Kalaupun ada spare part yang didatangkan, istilahnya ditempel agar bisa dipakai, tapi tidak bisa langsung pas begitu saja. Perlu banyak modifikasi dan penyesuaian di lapangan,” imbuhnya.

Selain faktor mekanis, Samuel menyebut faktor cuaca tahun ini memperparah sebaran debu. Berbeda dengan musim giling tahun lalu yang masih sering diguyur hujan atau emarau basah, tahun ini wilayah Sragen memasuki musim kemarau yang sangat kering.

”Namanya pabrik gula, sesepuh dulu sering bilang kalau musim giling itu pasti pas ketigo. Nah, tahun ini kemaraunya tegas. Angin kencang saat siang dan udara panas membuat debu dari dapur boiler kami menyebar lebih luas karena tidak tereduksi oleh air hujan seperti tahun lalu,” bebernya.

Baca Juga: 28 Guru dan Tendik di Karanganyar Terima SK Pensiun

Saat ini, fokus teknisi PG Mojo adalah menambah komponen penyaring pada cerobong ketel untuk meminimalisir semburan jelaga.

”Kalau tahun lalu dengan tiga alat treatment di cerobong sudah aman, tahun ini melihat kondisi cuaca yang kering, alat mereduksi ini harus kami tambah lagi. Teknisi kami terus berupaya maksimal meminimalisir, syukur-syukur bisa hilang sama sekali,” tandas Samuel. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#sragen kulon #PG Mojo #pabrik gula #sragen #giling tebu