RADARSOLO.COM – Wilayah Sragen sisi utara mulai merasakan krisis air bersih di musim kemarau 2026 ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen bahkan sudah mengirim armada bantuan air bersih perdana, Jumat (3/7/2026).
Satu tangki air berkapasitas penuh dikirim langsung menembus kawasan rawan di utara Bengawan Solo untuk meredam potensi krisis yang mulai mengintai warga.
Kecamatan Gesi menjadi titik pertama yang disentuh. Tepatnya di RT 05, Dukuh Krengseng, Desa Poleng.
Baca Juga: 26 SMPN di Sragen Kekurangan Pendaftar, Disdikbud Beberkan Penyebabnya
Di lokasi tersebut, pasokan air sumur warga dilaporkan menyusut drastis dalam beberapa pekan terakhir. Sedikitnya 65 kepala keluarga (KK) atau sekitar 218 jiwa terdampak.
Kasi Kedaruratan BPBD Sragen Ahmad Subekti membenarkan pergerakan armada tersebut.
"Hari ini armada perdana mulai berangkat. Kami langsung tindak lanjuti posko darurat di Dukuh Krengseng," terangnya, Jumat (3/7/2026) siang.
Baca Juga: Menang Praperadilan, Aris Martopo Bakal Kembali Bertugas di Pemkab Karanganyar
Hingga saat ini, Desa Poleng menjadi satu-satunya wilayah yang responnya paling cepat dalam melayangkan surat permohonan resmi.
Subekti mengingatkan, tertib administrasi tetap menjadi kunci utama eksekusi bantuan agar penyaluran tepat sasaran dan terdata dengan baik.
Pihak desa yang wilayahnya mulai kering diminta segera mengirimkan berkas pengajuan yang diketahui oleh camat setempat.
Baca Juga: Langes PG Mojo Sragen Dikeluhkan Warga, Manajemen Beberkan Penyebabnya
Prosedurnya, setelah surat masuk, tim asesmen BPBD akan langsung turun ke lapangan untuk mengecek urgensi serta kesiapan infrastruktur penampungan.
"Warga kami harapkan menyiapkan tandon darurat, bisa memanfaatkan terpal. Jadi begitu tangki datang, air bisa langsung ditampung dan warga tidak perlu antre mengular," imbuh Subekti.
Mengantisipasi skenario terburuk sepanjang musim kemarau 2026, pihaknya telah mengamankan kuota reguler sebanyak 500 tangki air bersih.
Baca Juga: Pemkab Karanganyar Andalkan Burung Hantu Genjot Hasil Pertanian
Jika dampak kemarau meluas di luar prediksi dan kuota tersebut jebol, Pemkab Sragen siap mengaktifkan keran dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
BPBD juga menggandeng pengusaha sumur dalam di wilayah utara untuk memangkas waktu mobilisasi armada.
Dihubungi terpisah, Plt Camat Gesi Dion Henry menegaskan, seluruh jajaran pemerintahan desa di wilayahnya sudah dalam posisi siaga penuh.
Baca Juga: Disdikbud Sragen Bantah Tudingan Surat Kaleng, Jelaskan Permasalahan Pengisian Kepala Sekolah
Koordinasi intensif dilakukan untuk memastikan infrastruktur di tingkat dukuh siap menerima pasokan air bersih dari kabupaten.
"Kami di jajaran kecamatan bersama para kepala desa sudah memetakan titik-titik paling rawan. Secara prinsip, Gesi sudah sangat siap menerima dan mendistribusikan bantuan air bersih. Kami juga terus mengedukasi warga agar mulai bijak menggunakan sisa air tanah yang ada," ungkap Dion.
Sebelumnya, Bupati Sragen Sigit Pamungkas telah menerbitkan Keputusan Bupati terkait status Siaga Darurat Bencana Kekeringan.
Baca Juga: Ingin Mudah Dapat Kerja? Intip 5 Jurusan Unggulan UIN Surakarta
Dari hasil mapping terbaru, ada sembilan kecamatan yang masuk zona merah krisis air bersih, mencakup 34 desa dan 135 dukuh.
Selain Gesi, pengawasan ketat juga diarahkan ke Kecamatan Tangen, Sumberlawang, Mondokan, Sukodono, Jenar, Miri, Masaran, dan Tanon.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sragen Danang Hermawan menambahkan, status siaga darurat yang awalnya berlaku Mei Juni bakal dievaluasi total.
Baca Juga: Michael Olise Samai Rekor Diego Maradona, Tinggal Selangkah Pecahkan Rekor Pele di Piala Dunia
Mengingat pergerakan grafik kekeringan mulai merangkak naik pada Juli ini, perpanjangan status menjadi keharusan.
"Bulan Mei-Juni kemarin menjadi fase awal kesiapsiagaan berdasar prediksi BMKG. Memasuki Juli ini, jika kondisi di lapangan kian kritis dan eskalasinya meluas ke kecamatan lain, statusnya akan langsung kami naikkan menjadi Tanggap Darurat Kekeringan lewat SK Bupati," tegas Danang. (din/adi)
Editor : Adi Pras