RADARSOLO.COM – Ikatan historis yang kuat dan mendalam antara Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY) dengan Kabupaten Sragen kembali dirajut melalui momentum bersejarah.
Gubernur DI Jogjakarta sekaligus Raja Keraton Jogjakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara terbuka mengakui Bumi Sukowati sebagai "saudara tua" bagi Yogyakarta.
Pengakuan sarat makna ini disampaikan langsung dalam gelaran Muhibah Budaya yang berlangsung khidmat di halaman Kantor Pemda Terpadu Sragen, Kamis malam (9/7/2026).
Baca Juga: Solusi Kekeringan Jangka Panjang, Politisi Sragen Usul Satu RT Satu Sumur Dalam
Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam melengkapi potongan sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang selama ini dinilai belum sepenuhnya utuh.
Didampingi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Bupati Sragen Sigit Pamungkas, Sri Sultan menegaskan bahwa wilayah Sukowati bukan sekadar tempat persinggahan biasa dalam sejarah Mataram, melainkan pilar utama yang menopang tegaknya kedaulatan Jogjakarta.
"Jejak itu yang menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta. Sukowati bukanlah sekadar persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat," ujar Sri Sultan HB X.
Menurut Sultan, esensi dari nilai-nilai Mataraman tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat administratif modern pasca-Perjanjian Giyanti 1755. Hubungan emosional dan sejarah kedua daerah ditarik jauh ke belakang, tepatnya pada 19 Mei 1746.
Saat itu, Bendoro Pangeran Haryo Mangkubumi (yang kelak bertakhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I) memutuskan meninggalkan Surakarta demi menentang kongkalikong Hindia Belanda, lalu bergerak menuju Pandak, Sragen.
Hanya berselang delapan hari setelah kepindahan tersebut, tepatnya pada 27 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi meletakkan titik nol kedaulatan dengan membentuk Pemerintahan Projo Sukowati di Pendopo Pandak, Krikilan, Masaran.
Baca Juga: Napak Tilas Sultan Hamengku Buwono X di Sragen: Menyusuri Jejak Perjuangan Pangeran Mangkubumi
Momentum perlawanan dan pergerakan inilah yang kemudian abadi dan diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sragen hingga saat ini.
"Kami di sini untuk belajar. Karena untuk menelusuri sejarah, kami masih kurang. Dalam arti kurang itu, kami belum berkunjung ke sini secara langsung," bener sultan.
"Sehingga harapan kami, rekaman yang utuh terhadap proses berdirinya Keraton Yogyakarta, di mana pangeran-pangeran itu asal dan tinggal di Sragen Sukowati bisa menjadi makin komplit," ujarnya.
Baca Juga: Kejari Karanganyar Ajukan Kasasi dalam Kasus Korupsi Aset Kades Jaten
Sultan menambahkan, kunjungan perdana ini krusial untuk melengkapi narasi sejarah masa lalu. Selama ini, masyarakat lebih akrab dengan figur Sri Sultan Hamengku Buwono I saat sudah bertakhta di Yogyakarta, namun kerap melupakan fase krusial perjuangan pra-Yogyakarta yang justru berakar kuat di Bumi Sukowati.
Melalui sarasehan dan dialog sejarah yang digelar dalam rangkaian Muhibah Budaya ini, mata rantai sejarah yang sempat terpisah ruang dan waktu diharapkan bisa tersambung kembali secara utuh.
Sultan juga merefleksikan ajaran luhur dengan mengutip petikan dari Serat Sastrogending (Pupuh Sinom pada telu):
“Marma sagung trah Mataram, kinen wiknyo tembung kawi”.
Baca Juga: Bengkel Motor di Kedawung Sragen Terbakar, Kerugian Capai Rp 80 Juta
Pesan filsafat Jawa kuno ini merupakan seruan bagi seluruh trah Mataram agar bijaksana dalam memetik hikmah zaman serta konsisten menjalankan laku utomo (perbuatan utama) kebajikan yang dahulu dicontohkan oleh para leluhur di Bumi Sukowati saat berjuang melawan kolonialisme.
Antusiasme luar biasa ditunjukkan oleh warga Sragen sepanjang menyambut rombongan dinasti Mataram tersebut. Sejumlah warga bahkan tampak terharu hingga mencium tangan Sri Sultan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang raja.
Seluruh rangkaian kegiatan napak tilas ini dibiayai melalui Dana Keistimewaan (Danais) Provinsi DIY, yang dialokasikan khusus untuk menyusuri kembali rute gerilya Pangeran Mangkubumi di era 1746 M.
Baca Juga: Pukulan Telak KDMP, Koperasi Kelurahan Merah Putih di Karanganyar Ini sudah Launching
Sementara itu, Bupati Sragen Sigit Pamungkas tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan haru atas kunjungan bersejarah ini.
Pihaknya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kerawuhan (kehadiran) Sri Sultan HB X yang dinilai berhasil merajut kembali tali silaturahmi historis yang sempat meredup.
"Matur nuwun sanget, kami merasa sangat senang sekali. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ngarsa Dalem yang berkenan untuk rawuh di Sragen, karena kehadiran beliau menjadikan sambungan kesejarahan antara Sragen dengan Ngayogyakarta tersambung kembali," ungkap Sigit Pamungkas.
Baca Juga: Kemenag Sragen Tanggapi Insiden di KUA Karangmalang: Sempat Terjadi Ketegangan hingga Diusir Staf
"Bagaimanapun juga, setiap hari jadi Sragen, kami selalu memperingati kepahlawanan Pangeran Mangkubumi di Sragen, dan sejarah itu harus terus kita jaga sampai saat ini," tuturnya.
Sri Sultan HB X berharap pemahaman kolektif mengenai asal-usul sejarah ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka.
Narasi besar ini harus mampu menggugah kesadaran generasi muda di kedua daerah.
Dengan memahami akar budaya bersama, generasi penerus dinilai akan memiliki modal kebudayaan yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman di masa depan. (din/adi)
Editor : Adi Pras