RADARSOLO.COM – Ganasnya arus Sungai Bengawan Solo kembali menelan korban. Irsad Rivai Musslih, 19, warga Gawan, Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen, dilaporkan hilang tenggelam pada Minggu (19/7/2026) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Korban terseret arus bawah yang deras saat berniat mendinginkan badan di sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Hingga tadi pagi (20/7/2026) pukul 10.00 WIB, jasad korban belum berhasil ditemukan. Tim SAR gabungan masih bersiaga di lokasi kejadian untuk melakukan pemantauan visual.
Baca Juga: Ratusan SDN di Sragen Krisis Pendaftar, Sekolah Favorit Justru Harus Tolak Siswa
Peristiwa memilukan ini bermula pasca-Duhur, sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, korban bersama tiga rekannya tengah nongkrong di pinggir sungai yang melintasi Dukuh Ngipang, Kelurahan Gawan, Kecamatan Tanon.
Karena cuaca yang menyengat, korban berinisiatif turun ke sungai untuk berendam.
”Korban pamit ke teman-temannya mau berendam karena hawanya panas. Salah satu temannya, Dista, tahu kalau korban tidak bisa berenang. Makanya dia ikut turun untuk mendampingi,” ujar Kepala Desa Gawan, Sutris.
Baca Juga: Waduk Delingan Karanganyar Mengering: Jadi Lahan Pertanian, Warga Berebut Ikan
Nahas, begitu menginjakkan kaki di air, korban terpeleset. Dalam hitungan detik, arus Bengawan Solo yang sedang deras langsung menggulung tubuh remaja 19 tahun tersebut.
Dista yang berada di dekatnya sempat menyergap tubuh korban. Namun, kuatnya arus membuat keduanya justru ikut hanyut dan terseret hingga 250 meter ke arah hilir.
Aksi heroik sekaligus menegangkan sempat terjadi di hilir sungai. Seorang remaja setempat, Choki Putut Saputro, 16, yang sedang bermain di tepi sungai melihat kedua korban timbul tenggelam berjuang melawan maut.
Baca Juga: Sumur Mengering, 1.664 Jiwa di Tangen Sragen Krisis Air Bersih
Lantas Choki melemparkan bola plastik ke arah kedua korban yang hanyut. Dista berhasil meraih bola tersebut dan dievakuasi oleh Choki ke tepian.
Sementara korban Irsad yang diduga sudah kehabisan tenaga gagal menyelamatkan diri dan tenggelam ditelan arus bawah sungai.
Anggota TRC BPBD Kabupaten Sragen, Anang, membenarkan terjadinya pergulatan di bawah air tersebut.
”Karena keduanya panik, terjadi refleks pertahanan hidup di dalam air (saling tarik-menarik). Akibatnya, korban yang kehabisan oksigen dan tenaga tidak kuat lagi, lalu tenggelam. Korban yang dinyatakan hilang dipastikan satu orang,” jelas Anang.
Baca Juga: Pemkab Karanganyar Perkuat Pendidikan Inklusif Sejak Usia Dini
Mendapat laporan laka air, tim gabungan berskala besar langsung diterjunkan ke lokasi. Mulai dari BPBD Sragen, Basarnas, TNI/Polri, hingga puluhan organisasi relawan seperti MTA, Dinsos, Tagana, dan MDMC.
Pada sore hari, petugas sempat melakukan penyisiran air (body rafting dan perahu LCR). Namun, menjelang malam, taktik pencarian terpaksa diubah demi keselamatan tim karena terbatasnya jarak pandang dan pekatnya medan sungai.
”Untuk malam, penyisiran air dihentikan sementara. Kami memaksimalkan pemantauan visual dari darat menggunakan lampu sorot (lampu blor) di sepanjang tepian sungai," pungkas Anang. (din/adi)
Editor : Adi Pras