RADARSOLO.COM – Manajemen Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen akhirnya angkat bicara menanggapi gelombang protes warga dan keluhan di media sosial terkait emisi abu tebu.
Pihak manajemen mengakui adanya peningkatan dampak emisi debu, namun membantah tegas tuduhan bahwa operasional pabrik telah melebihi kapasitas (over capacity).
Manager Instalasi PG Mojo Edi Sugihandoyo menjelaskan, lonjakan emisi polusi udara musim ini dipicu oleh kombinasi dua faktor utama, yakni faktor cuaca ekstrem serta optimalisasi kapasitas giling demi menyerap hasil panen petani.
Baca Juga: Warga Keluhkan ISPA, DPRD Sragen Semprot PG Mojo
Iklim kemarau yang sangat kering tahun ini membuat curah hujan nihil, sehingga debu dan abu sisa pembakaran boiler yang melayang tidak bisa langsung luruh ke tanah.
Abu terakumulasi di atap rumah serta dedaunan, lalu berterbangan menerpa pemukiman warga begitu diterjang angin kencang.
Di sisi lain, potensi produksi tebu di Sragen musim ini memang tergolong melimpah. Luas lahan tebu yang mencapai sekitar 7.500 hektare diperkirakan mampu menghasilkan estimasi panen hingga 6 juta kuintal.
Baca Juga: Pemkab Karanganyar Tambah 45 Rambu Penunjuk Arah ke Puncak Gunung Lawu
Angka ini melonjak tajam dibanding tahun lalu yang mencatatkan daya serap tertinggi sebanyak 4,4 juta kuintal.
Kondisi tersebut mendorong PG Mojo menaikkan beban kerja mesin boiler dari yang biasanya hanya 60 ton per jam (kapasitas giling 2.400–2.800 ton tebu per hari) menjadi 70–75 ton per jam (3.000–3.200 ton tebu per hari) agar tebu hasil keringat petani tidak membusuk di ladang.
Edi menegaskan, mesin boiler pabrik sebenarnya memiliki kapasitas desain hingga 80 ton per jam. Secara teknis, pengoperasian di angka 70–75 ton masih berada pada batas aman alat.
Baca Juga: Petinggi BUMD Sragen Bakal Berganti: Seleksi Rampung, Bola Kini di Tangan Bupati
Kendati demikian, manajemen tak menampik bahwa emisi yang dihasilkan secara riil di lapangan telah mengganggu kenyamanan masyarakat, sehingga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Menanggapi keluhan warga dan hasil audiensi bersama Komisi 3 DPRD Sragen, manajemen telah menyiapkan dua skenario penanganan.
Untuk jangka pendek, pabrik melakukan tuning dan re-setting pada alat penangkap debu Electrostatic Precipitator (ESP) dengan melibatkan tenaga ahli eksternal, sekaligus membuka saluran komunikasi yang lebih responsif lewat pengurus RT/RW setempat.
Baca Juga: Polres Karanganyar Naikkan Dugaan Pemalsuan Dokumen Perangkat Desa di Jumapolo ke Tahap Penyidikan
Sementara untuk jangka panjang, PG Mojo bakal mengusulkan penambahan komponen penangkap debu pada mesin ESP dari 2 field menjadi 3 field ke kantor pusat untuk musim giling tahun depan.
Terkait wacana penurunan kapasitas produksi demi meredam emisi, pihak unit kerja PG Mojo masih menunggu rekomendasi resmi tertulis dari Pemkab dan DPRD Sragen sebagai dasar pertimbangan yang akan dibawa ke kantor pusat serta forum kemitraan petani.
Dampak polusi ini sendiri dirasakan paling parah oleh warga kawasan Ring 1 dalam radius 500 meter hingga 1 kilometer dari pabrik, termasuk wilayah Kelurahan Sragen Kulon dan Nglorog.
Baca Juga: Malam Membara di Sragen: 52 Ribu Ayam Terpanggang Massal, Mobil Innova Ludes Terbakar
Dengan progres giling yang baru mencapai kisaran 48–50 persen, operasional mesin diperkirakan masih akan terus berjalan hingga 80 sampai 90 hari ke depan demi menyeimbangkan kepentingan penyerapan tebu petani dan kenyamanan lingkungan warga. (din/adi)
Editor : Adi Pras