Dilema Petani Tebu di Sragen: Jika Kapasitas Dipangkas, Risiko Antrean Panjang Menanti

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 19:57 WIB

 

Antrean truk pembawa tebu sebelum masuk ke Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Antrean truk pembawa tebu sebelum masuk ke Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Wacana pengurangan kapasitas giling Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen demi menekan polusi abu (langas) memicu kekhawatiran serius di kalangan petani.

Penurunan kapasitas produksi dinilai bakal memicu efek domino yang merugikan. Mulai dari antrean truk yang mengular hingga ancaman tebu tak terpanen di ladang.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sragen Parwanto mengungkapkan, posisi petani saat ini serba dilematis. Di satu sisi, pihak petani memahami keluhan polusi yang dirasakan warga sekitar pabrik.

Baca Juga: Rampok Sadis Jenar Peragakan 40 Adegan, Polres Sragen Dalami Unsur Pembunuhan Berencana

Namun di sisi lain, pemangkasan kapasitas giling menjadi 2.400–2.800 ton per hari akan berdampak langsung pada penyerapan tebu lokal.

”Jika kapasitas giling dikurangi, antrean armada di jalan otomatis makin jubel. Sebenarnya titik ideal PG Mojo itu menyerap sekitar 31.000 kuintal atau 350–360 truk per hari. Jika itu dikurangi, pasokan tebu harus dilempar ke luar daerah atau mengantre sangat lama,” ujar Parwanto, Rabu (29/7/2026).

Kondisi tersebut membangkitkan trauma masa lalu para petani. Pada musim tanam 2022 lalu, sekitar 20 persen tebu di Sragen gagal tertebang akibat cuaca ekstrem dan terbatasnya daya serap pabrik.

Baca Juga: Dengar Tiga Kali Letupan, Rumah Warga Kebakkramat Karanganyar Ludes Dilalap Si Jago Merah

Tebu yang tertahan di lahan, terutama di kawasan bersudut sulit membuat petani menanggung kerugian besar hingga tak sanggup membayar utang modal tanam.

Situasi musim ini kian menghimpit karena petani harus menghadapi cobaan ganda, yakni penurunan volume produksi sekaligus anjloknya harga jual tebu.

Dari total luas lahan tebu di Sragen yang mencapai sekitar 6.000 hektare, produktivitas tahun ini merosot hingga 30 persen akibat curah hujan berlebih yang merusak pH tanah.

Baca Juga: Polres Sragen Bongkar Jaringan Peredaran Sabu dan Obat Berbahaya, Lima Pengedar Dibekuk dalam Sepekan

Rata-rata hasil panen kini hanya menyentuh 600 kuintal (60 ton) per hektare dengan pertumbuhan batang yang kerdil.

Tekanan makin berat lantaran harga tebu di tingkat petani ikut merosot hingga 15 persen. Dari yang sempat berada di angka Rp 80 ribu per kuintal, kini harga tebu di awal giling berkisar Rp 66 ribu hingga Rp 69 ribu per kuintal.

”Setiba di tangan petani, nominal itu masih dipotong biaya tebang Rp 15 ribu dan biaya angkut Rp 7 ribu per kuintal. Petani praktis hanya mengantongi bersih sekitar Rp 45 ribu per kuintal. Produksi turun, harga tebu merosot, petani benar-benar berdarah-darah,” paparnya.

Baca Juga: Cegah Kebakaran TPA Sukosari, DLH Karanganyar Siapkan Tanah Uruk

Ditambah lagi, penutupan salah satu pabrik gula di Blora (GMM) membuat pasokan tebu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur kian melimpah dan memicu overload di berbagai pabrik pengolahan lain.

Menurutnya, satu-satunya harapan petani saat ini adalah adanya solusi teknis penanganan emisi tanpa harus mengorbankan kuota giling PG Mojo.

Pemangkasan kapasitas dinilai hanya memindahkan masalah dari polusi udara menjadi krisis ekonomi bagi para pejuang pangan di ladang tebu. (din/adi)

Editor : Adi Pras
PG Mojo sragen blora tebu petani tebu