Nekat Berenang di Sungai, Pekerja Migran asal Sragen Tenggelam di Jepang

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Galang Satrio Priambodo, 25, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Karangturi RT 01, Desa Padas, Kecamatan Tanon, Sragen meninggal di Jepang. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Galang Satrio Priambodo, 25, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Karangturi RT 01, Desa Padas, Kecamatan Tanon, Sragen meninggal di Jepang. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Niat melepas penat di luar jam kerja berujung petaka. Galang Satrio Priambodo, 25, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Karangturi RT 01, Desa Padas, Kecamatan Tanon, Sragen meninggal karena tenggelam di sebuah sungai di Jepang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sragen Rina Wijaya membenarkan kabar duka yang menyelimuti keluarga korban.

Berdasarkan data yang dihimpun, pemuda kelahiran 11 Mei 1999 itu mulanya merantau ke Jepang melalui jalur lembaga pelatihan kerja (LPK) di Wonogiri.

Baca Juga: Polemik Perubahan Desil, BPS Sragen Sebut Di-Update Setiap Ini

”Mas Galang memang warga Sragen, Kecamatan Tanon, tetapi berangkatnya melalui LPK di Wonogiri. Kendati demikian, kami dari Disnaker tetap memfasilitasi dan terus berkomunikasi intensif dengan KBRI di Jepang,” ujar Rina saat ditemui di Sragen, Kamis (20/8/2026).

Berdasarkan laporan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang, insiden nahas itu bermula saat Galang bersama rekan-rekannya memutuskan berenang di sungai setempat.

Padahal, rekan-rekan korban sempat melarang keras lantaran lokasi tersebut dikenal keramat dan kerap digunakan warga lokal untuk prosesi pelarungan abu jenazah.

Baca Juga: Gagal Salip Truk Pakan Ayam, Warga Karanganyar Meninggal di Palur

Peringatan tersebut diabaikan. Nasib berkata lain, korban terseret arus, tenggelam, dan nyawanya tidak tertolong.

”Sebenarnya menurut informasi dari pihak KBRI, teman-temannya sudah menyarankan untuk tidak berenang di situ. Namun musibah terjadi, korban tenggelam dan meninggal dunia,” terang Rina.

Terkendala asuransi dan biaya pemulangan, kasus ini menyisakan persoalan pelik bagi keluarga di tanah air. Status Galang di Jepang sejatinya sudah mandiri dan mapan.

Baca Juga: Polres Sragen Bekuk Dua Pengedar Sabu, Sita 19 Paket Siap Edar

Ia telah memasuki tahun kelima dengan skema Specified Skilled Worker (SSW) atau pekerja terampil, setelah sebelumnya merampungkan program pemagangan selama tiga tahun.

Kendati berstatus pekerja resmi, perusahaan tempat Galang bekerja di Jepang ternyata tidak mendaftarkannya ke dalam program perlindungan asuransi. Terlebih, insiden terjadi di luar jam kerja.

Kondisi tersebut membuat biaya pemulangan jenazah dari Jepang ke kampung halaman tidak bisa diklaim lewat korporasi.

Baca Juga: Karanganyar Eco Culture Night Carnival 2026 Meriah, ​Semarak Kemerdekaan Diiringi Aksi Peduli NTT

Seluruh proses pemulangan akhirnya mengandalkan jalur swadaya serta penggalangan dana solidaritas dari komunitas sesama PMI di Jepang.

Dijadwalkan tiba Jumat (21/8/2026). Meski demikian, negara tidak tinggal diam. Disnaker Kabupaten Sragen bergerak cepat menggandeng Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah untuk mengawal proses kepulangan korban.

Sesuai manifes penerbangan dari Jepang via Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng), jenazah dijadwalkan tiba di Bandara Adi Soemarmo pada Jumat (21/8/2026) untuk langsung diserahkan kepada pihak keluarga di Tanon.

Baca Juga: Penertiban PKL Liar di Jalan Veteran Sragen Disorot, Satpol PP Buka Suara

”Kami sudah berkoordinasi dengan BP3MI Semarang. Nanti armada ambulans untuk penjemputan jenazah dari Bandara Adi Soemarmo hingga menuju rumah duka di Tanon seluruhnya difasilitasi oleh BP3MI Jawa Tengah,” tandas Rina. (din/adi)

Editor : Adi Pras
kbri LPK sragen tanon Pekerja Migran Indonesia (PMI)