Warga terdampak bau limbah yang mengikuti aksi di PT RUM tidak hanya berasal dari Sukoharjo. Namun juga dari Wonogiri, Karanganyar, dan Solo. Koordinator lapangan (korlap) aksi Hirman mengatakan, selama dua hari menggelar aksi mulai Selasa-Rabu (10-11/12), tidak ada satu pun pihak manajemen PT RUM yang datang. Oleh karena itu, di hari ketiga ini, warga ngotot menggelar aksi dan memukul kentungan di depan pabrik PT RUM.
"Selama tiga hari (10-12/12) menggelar aksi tidak ada satu pun manajemen PT RUM yang keluar. Karenanya kami akan menggelar aksi ke Pemkab Sukoharjo," terang Hirman.
Menurut Hirman, warga tetap akan berjuang agar bisa terbebas dari bau limbah PT RUM yang telah meneror sejak dua tahun lalu.
"Kami menuntut PT RUM menghentikan produksi yang mencemari lingkungan. Kami juga meminta agar kepolisian segera melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait tindak pidana lingkungan hidup yang diduga dilakukan PT RUM," katanya.
Selain itu, tuntutan juga ditujukan kepada Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya yang harus mencabut izin lingkungan PT RUM. Jika permintaan itu tak digubris, warga akan meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mencabut izin lingkungan.
Sementara itu, melalui juru bicaranya, pihak PT RUM mengatakan, saat ini pimpinan manajemen tengah berada di pabrik pembuat mesin H2SO4 Recovery Plant yang digunakan untuk mendaur ulang H2S menjadi H2SO4. "Saat ini direktur utama dan direktur tengah berada di Beijing, China. Sebab, PT RUM tengah memesan mesin H2SO4 Recovery Plant. Sedangkan saya masih dinas di Jakarta," ujarnya.
Ditambahkan dia, PT RUM berencana memasang mesin H2SO4 Recovery Plant yang berfungsi mendaur ulang gas H2S menjadi H2SO4. Di mana bahan baku utamanya adalah uap H2S yang sering dikeluhkan warga sekitar PT RUM. (rgl/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra